Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid.
Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat.
Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah.
Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.
Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.
“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:
“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”
“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.
“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.
“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.
Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.
“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.
“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.”
Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”
Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”
Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”
Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”
Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.
Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.
“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.
Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”
Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”
***
Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhi…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.
***
Senja datang
Angin mendesau, sepi…
Pasir-pasir beterbangan…
Berputar-putar…
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan…
Tanpa dikafankan…
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.
Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.
Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.
Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”
Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”
“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.
“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”
***
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.
Malam menjelang…
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini pabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “
Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.
Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah…
Ada sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
“Suamiku, aku mencintaimu…
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas….
Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts
Saturday, August 15, 2009
Uwais AlQarni Penghuni Bumi Yang Terkenal di Langit
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru,
rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan,
kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada
tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli
membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut
yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan,
tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan
tetapi sangat terkenal di langit.
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti
ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru
dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata
Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah
dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan
karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang
dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan
menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai
macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya,
memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik,
karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya
seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari
mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari
mencuri”.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili
kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya
penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh
dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan
puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar
seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk
menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati
Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera
memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya
kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke
Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.
Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan
cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru
datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan
kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk
bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang
cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu
yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera
dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini
akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan
musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya
dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah
beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya
selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi
menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa
terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di
rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan
kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras
baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni
di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah
r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi
yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang
perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada
di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan
Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan
masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang
kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa
Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni
langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya
sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin
berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai
tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah
do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni
bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda
Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju
kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman,
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan
bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di
perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi
menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar !
Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban
itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah,
yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan
mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat
itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:
“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan
Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan
istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni
akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang
negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera
saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar
beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh
Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab
bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus
dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami
sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin
berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan
selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami
memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di
atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai
waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu
kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah,
tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang
terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan
dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah !
“katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal
dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal
satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami
lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu
orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban
asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah
nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di
kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim
oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah
kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat
di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam,
tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya
dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan
seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang
tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah
pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan
tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan
ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada
orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika
orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada
orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan
dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan
untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,
“ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari
mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat
penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah
tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah
orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa
pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya
orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan
pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan
orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan
ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais
al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang
tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba
dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan
penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah
kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya
mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman
mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi
tapi terkenal di langit.
rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan,
kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada
tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli
membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut
yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan,
tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan
tetapi sangat terkenal di langit.
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti
ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru
dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata
Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah
dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan
karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang
dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan
menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai
macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya,
memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik,
karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya
seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari
mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari
mencuri”.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili
kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya
penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh
dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan
puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar
seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk
menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati
Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera
memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya
kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke
Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.
Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan
cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru
datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan
kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk
bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang
cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu
yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera
dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini
akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan
musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya
dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah
beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya
selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi
menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa
terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di
rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan
kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras
baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni
di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah
r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi
yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang
perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada
di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan
Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan
masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang
kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa
Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni
langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya
sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin
berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai
tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah
do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni
bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda
Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju
kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman,
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan
bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di
perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi
menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar !
Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban
itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah,
yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan
mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat
itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:
“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan
Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan
istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni
akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang
negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera
saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar
beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh
Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab
bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus
dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami
sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin
berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan
selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami
memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di
atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai
waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu
kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah,
tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang
terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan
dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah !
“katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal
dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal
satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami
lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu
orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban
asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah
nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di
kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim
oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah
kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat
di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam,
tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya
dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan
seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang
tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah
pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan
tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan
ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada
orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika
orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada
orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan
dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan
untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,
“ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari
mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat
penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah
tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah
orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa
pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya
orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan
pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan
orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan
ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais
al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang
tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba
dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan
penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah
kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya
mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman
mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi
tapi terkenal di langit.
Labels:
Kisah
Sunday, August 2, 2009
Nasihat Rasul SAW sebelum tidur
Rasulullah S.A.W. berpesan kepada Aisyah RA:
Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum
melakukan empat perkara, iaitu :
1. Sebelum khatam Al Qur'an,
2. Sebelum membuat para nabi memberimu
syafaat di hari akhir,
3. Sebelum para muslim meredhai kamu,
4. Sebelum kaulaksanakan haji dan umrah....
Bertanya Aisyah:
Ya Rasulullah.... Bagaimana aku dapat
melaksanakan empat perkara seketika?
Rasulullah S.A.W. tersenyum dan bersabda:
1) Jika engkau tidur bacalah: Al Ikhlas
tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan
Al-Qur'an.
2) Membacalah selawat untukKu dan para
nabi sebelum aku, maka kami semua akan
memberi syafaat di hari kiamat.
3) Beristighfarlah untuk para muslimin
maka mereka akan meredhai kamu.
4) Dan,perbanyaklah bertasbih,
bertahmid, bertahlil, bertakbir maka
seakan-akan kamu telah melaksanakan
ibadah haji dan umrah.
Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum
melakukan empat perkara, iaitu :
1. Sebelum khatam Al Qur'an,
2. Sebelum membuat para nabi memberimu
syafaat di hari akhir,
3. Sebelum para muslim meredhai kamu,
4. Sebelum kaulaksanakan haji dan umrah....
Bertanya Aisyah:
Ya Rasulullah.... Bagaimana aku dapat
melaksanakan empat perkara seketika?
Rasulullah S.A.W. tersenyum dan bersabda:
1) Jika engkau tidur bacalah: Al Ikhlas
tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan
Al-Qur'an.
2) Membacalah selawat untukKu dan para
nabi sebelum aku, maka kami semua akan
memberi syafaat di hari kiamat.
3) Beristighfarlah untuk para muslimin
maka mereka akan meredhai kamu.
4) Dan,perbanyaklah bertasbih,
bertahmid, bertahlil, bertakbir maka
seakan-akan kamu telah melaksanakan
ibadah haji dan umrah.
Labels:
Kisah
Imannya Sahabat Abu Bakar
Abu bakar adalah seorang pedagang di masa Jahiliyah. Diceritakan asal – muasalnya sampai dia masuk islam ialah dia pernah mimpi di negeri Syam, bahwa matahari dan bulan berada di pangkuannya, kemudian ia peluk dan kenakan sebagi kain selempangnya. Setelah ia bangun, pergilah ia ke Pendeta Nasrani untuk menceritakan dan menanyakan tafsir impiannya.
”kau dari mana?” tanya Pendeta
”Mekkah.” jawab Abu Bakar
”dari kabilah mana?”
”Taim”
”Apa pekerjaanmu?”
”Berdagang”
kemudian Pendeta itu berkata, ”kelak di zamanmu akan tampil seorang Nabi akhir zaman bernama Muhammad Al Amin, dari kabilah Hasyim. Andaikata ia tidak diciptakan, niscaya Allah tak menciptakan langit, bumi, Nabi Adam, para Nabi, dan para Rasul. Sedangkan dirimu juga akan masuk agama islam dan menjadi menterinya serta khalifah setelahnya. Inilah tafsir impianmu.”
pendeta Nasrani itu selanjutnya berkata lagi, ”aku telah menemukan sifat orang yang akan jadi Nabi itu di dalam kitab Taurat, Injil dan Zabur. Sebetulnya aku sendiri juga telah masuk agama islam, tapi hal ini senantiasa kurahasiakan, karena takut kepada orang-orang nasrani.”
setelah mendengar ucapan pendeta tersebut, hati Abu Bakar jadi lunak dan rindu ingin berjumpa dengan Nabi Muhammad. Rasa rindu itulah yang mendorongnya segera kembali ke kota Mekkah, sehingga dapat bersua dengan Nabi Muhammad.
Konon, meski Abu Bakar sudah lama berhubungan dengan Nabi SAW. Namun ia belum juga mau masuk Islam.
”Hai Abu Bakar, setiap hari kau datang dan berbincang – bincang denganku. Tapi mengapa kau tak mau masuk agama Islam?” pada suatu hari saat Nabi menegurnya.
”Andaikata kau benar-benar seorang Nabi, tentu kau punya mukjizat.” jawab Abu Bakar.
”apakah belum cukup mukjizat yang kau impikan di negeri Syam? Kala itu kau ditunjukkan tafsirnya oleh pendeta? Disamping itu kau juga telah diberitahu tentang ke-Islamannya?” demikian Nabi Muhammad balik bertanya.
Akhirnya terucaplah dari mulut Abu Bakar ucapan :
Asyhadu An Laa ilaaha Illallah wa Annaka Rasulullah. Dengan demikian Abu Bakar masuk agama Islam.
Terjemahan Kitab Al Mawaa ’Izhul Ushfuriyyah
”kau dari mana?” tanya Pendeta
”Mekkah.” jawab Abu Bakar
”dari kabilah mana?”
”Taim”
”Apa pekerjaanmu?”
”Berdagang”
kemudian Pendeta itu berkata, ”kelak di zamanmu akan tampil seorang Nabi akhir zaman bernama Muhammad Al Amin, dari kabilah Hasyim. Andaikata ia tidak diciptakan, niscaya Allah tak menciptakan langit, bumi, Nabi Adam, para Nabi, dan para Rasul. Sedangkan dirimu juga akan masuk agama islam dan menjadi menterinya serta khalifah setelahnya. Inilah tafsir impianmu.”
pendeta Nasrani itu selanjutnya berkata lagi, ”aku telah menemukan sifat orang yang akan jadi Nabi itu di dalam kitab Taurat, Injil dan Zabur. Sebetulnya aku sendiri juga telah masuk agama islam, tapi hal ini senantiasa kurahasiakan, karena takut kepada orang-orang nasrani.”
setelah mendengar ucapan pendeta tersebut, hati Abu Bakar jadi lunak dan rindu ingin berjumpa dengan Nabi Muhammad. Rasa rindu itulah yang mendorongnya segera kembali ke kota Mekkah, sehingga dapat bersua dengan Nabi Muhammad.
Konon, meski Abu Bakar sudah lama berhubungan dengan Nabi SAW. Namun ia belum juga mau masuk Islam.
”Hai Abu Bakar, setiap hari kau datang dan berbincang – bincang denganku. Tapi mengapa kau tak mau masuk agama Islam?” pada suatu hari saat Nabi menegurnya.
”Andaikata kau benar-benar seorang Nabi, tentu kau punya mukjizat.” jawab Abu Bakar.
”apakah belum cukup mukjizat yang kau impikan di negeri Syam? Kala itu kau ditunjukkan tafsirnya oleh pendeta? Disamping itu kau juga telah diberitahu tentang ke-Islamannya?” demikian Nabi Muhammad balik bertanya.
Akhirnya terucaplah dari mulut Abu Bakar ucapan :
Asyhadu An Laa ilaaha Illallah wa Annaka Rasulullah. Dengan demikian Abu Bakar masuk agama Islam.
Terjemahan Kitab Al Mawaa ’Izhul Ushfuriyyah
Labels:
Kisah
Perpisahan
Labbaika Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda wan Nikmata Laka Wal Mulka Laa Syarika Laka.
Ia berjalan dengan cepat sambil mengumandangkan panggilan itu ... Ia pernah berkata dengan terus menganjur¬kan agar aku menunaikan kewajiban berhaji: "Apa lagi yang engkau tunggu? Sampai kapan lagi akan engkau tunda? Kesempatannya hanya sekali setahun. Sementara perbuatan itu adalah salah satu rukun Islam. Apa alasanmu menang¬guhkannya?
Sekarang ini perjalanannya mudah dan transportasi juga gampang. Sementara pengamanan juga maksimal. Aku ber¬fikir lama mencari alasan ...
Ia kembali berkata: "Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan: "Pahala haji yang mabrur tidak lain hanyalah Surga. "
Sesungguhnya itu adalah pahala dan ganjaran baik yan akan memberikan semangat dan motivasi ke dalam hati, memberikan kegembiraan dan keceriaan ..
Namun berbagai kegiatanku tampak menggunung dalam bayanganku. Dan berbagai alasan juga tetap menggayut diriku. Suaranya kembali bergema dengan semangat yang lebih besar lagi. Ia berkata: "Ini kesempatan yang tidak ada gantinya. Jangan ragu-ragu."
Aku berkata kepadanya: "Itu satu keputusan yang tergesa-gesa. Tunggu dulu, biar aku berfikir terlebih dahulu. Kemudian bersama siapa kita pergi? Bagaimana kita pergi? Dan di mana kita akan tinggal?" Berbagai pertanyaan mengalir dengan cepat bagaikan air bah. Apa yang akan kita perbuat? Padahal di sana nanti orang-orang berdesak-desakan. Terutama tahun ini, panas juga amat terik, sementara jumlah jama'ah haji banyak sekali?!
Namun dengan tiba-tiba, ia menanggapi ucapanku itu dengan suara tenang: "Urusannya mudah saja. Allah akan memudahkan segala yang sulit, semoga saja Allah mem¬permudah segala urusan itu.
Berbagai aktivitas yang terlihat sebelumnya dalam pan¬dangan mataku bagaikan gunung-gunung, akhimya memu¬dar. Berbagai alasan yang saling bertumpang-tindih bagai¬kan gelombang lautan juga mulai hilang. Aku memutuskan untuk menemaninya berangkat menunaikan haji ... Adakah porbuatan yang lebih utama daripada menemani suami melakukan perjalanan ibadah?
Perkawinan kami sudah berlangsung tiga tahun. Tiga tahun pula kami saling menolong untuk melakukan ibadah. Bila ia lupa, aku mengingatkannya dan bila aku berbuat keteledoran, ia juga memperingatkan diriku. Aku masih teri¬ngat hari-hari pertama pernikahan kami. Jari-jari tangannya kala itu memungut sebuah gunting kecil. Aku bertanya: "Untuk apa gunting kecil itu?" Dengan menyembunyikan senyumannya, ia menjawab: "Untuk menggunting bagian jenggotku yang berlebihan." Kenapa engkau memotong¬nya?" Tanyaku lagi. "Untuk memperbagus penampilan di hadapanmu." Jawabnya. Keherananku telah mendorong untuk melontarkan pertanyaan yang mengejutkan: "Engkau memperbagus penampilan di hadapanku dengan bermaksiat kepada Allah?"
Sungguh ia adalah lelaki yang amat baik sekali. Dengan cepat ia menerima peringatan itu dan bertaubat. Ia mengem¬balikan gunting itu ke tempatnya kembali, dan tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi selanjutnya ..
Pada saat-saat berwuquf di Mina, aku bagaikan anak perempuan kecil yang terus menggondeli bapaknya karena takut dan khawatir. Aku tidak pernah membiarkan tanganku lepas dari pergelangan tangan dan telapak tangannya ..
Aku menggelayuti kasih sayangnya yang belum pernah kurasakan dalam hidupku sebelumnya. Namun hatiku menjadi tentram oleh suara dzikirnya kepada Allah. Kemah-kemah sudah disesaki oleh kaum lelaki dan wanita yang melakukan haji ...
Berbagai cara untuk menentramkan jiwa cukup tersedia. Setiap hari, usai shalat Maghrib ada ceramah. Tiga haripun berlalu sarat dengan doa dan istighfar ..
Tidak ada bedanya antara siang dan malam. Yang terdengar hanyalah suara orang-orang yang berhaji. Gunung gunung dan lembah-lembah di kota Mekah itu memantulkan gema suara takbir dan talbiyah-talbiyah tersebut..
Di pertengahan malam. Suara-suara semakin melambun tinggi. Takbir-takbir juga bersahutan. Suamiku bertanya: "Apakah kita akan berthawaf dan melakukan sa'i malam ini juga?" Ia menunjukkan tekadnya yang demikian kuat terhadap diriku, padahal aku sedang hamil. Mari kita mulai dari sini. Namun jangan engkau membuat capek dirimu sendiri dan jangan memaksa tubuhmu." Aku berdoa kepada Allah ketika berthawaf semoga aku dianugerahi anak yang shalih. Akupun berjalan mengejar waktu. Bisa jadi, tahun depan kami kembali bersama-sama di sini lagi ..
Pada malam terakhir bagi kami di Mekah, kami melaku¬kan thawaf Al-Wada'. "Ya Allah, janganlah Engkau menja¬dikan ini sebagai kesempatan terakhir kami di rumahMu yang agung ini." Air mataku jatuh bercucuran ..
Ketika aku teringat ucapan Syaikh itu kemarin sore di kemah tentang keutamaan haji, yakni tatkala menyitir hadits Nabi:
"Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah, tidak melaku¬kan rafats (berkata-kata porno/jelek) dan tidak berbuat kefasikan, ia akan kembali ke rumahnya seperti bayi yang baru dilahirkan, "
Akupun langsung bertakbir: "Allahu Akbar" segala dosa yang engkau lakukan terhadap Rabbmu akan diampuni, dan segala kesalahan yang engkau lakukan akan dihapuskan ...
Aku memuji kepada Allah terhadap kebaikan yang amat hesar itu. Aku berdoa kepada Allah dengan penuh keren¬dahan hati dan kekhusyu'an agar aku termasuk orang-orang yang diterima amal ibadahnya.
Mataku tertumpu memandangi Baitullah Ka'bah. Air mataku kembali bercucuran sebagai air mata perpisahan. Aku berbicara kepada diriku sendiri: "Bukankah aku akan kembali lagi?" mataku kembali memandangi Ka'bah sekali ..
"Apakah aku akan kembali melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah?" Aku melepas dahagaku dengan meminum air Zamzam. Air mata dan berbagai pelajaranpun bercucuran, sementara aku meninggalkan kota Mekah dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Perpisahan mana yang lebih mengharukan daripada perpisahan dengan tanah Al-Haram dan Maqam Ibrahim?
Kami berangkat ke lapangan terbang Jeddah. Suasana sungguh penuh sesak, suara-suara ribut, sementara pengu¬muman jadwal penerbangan dilakukan dengan bersahut-sa¬hutan ...
Terlihat suasana aneh tanpa pembicaraan. Yang terlihat hanyalah masing-masing musafir dengan barang bawaannya, Kami perhatikan wajah-wajah serius, mata-mata memandang tajam dan kuping-kuping sibuk mendengarkan: kapan waktunya untuk take off?
Karena kami berada dalam rombongan besar. Sebagian di antara kami terpaksa terlambat berangkat karena tidak men¬dapatkan tempat duduk. Di antara orang-orang yang terlam¬bat itu adalah: suamiku ..
Kami sampai di lapangan terbang Riyadh dan langsung mengambil salah satu tepi ruang tunggu. Bersama para jama'ah haji, kami menunggu kerabat-kerabat kami yang lain.
Kami lama menunggu. Ketika terdengar pengumuman sampainya kloter selanjutnya, aku memuji Allah. Kamipun saling berdesakan untuk melihat wajah orang-orang yang baru datang itu. Semuanya sudah sampai, kecuali suamiku.
Salah seorang jama'ah haji yang sebelumnya bersama kami mendatangi kami dan berbicara dengan lambat sekali dan terbata-bata. Ia mengabarkan bahwa suamiku akan da¬tang terlambat pada kloter selanjutnya. Ia mengusulkan agar kami berangkat saja daripada menunggu terlalu lama .. Aku bertanya pada diriku sendiri: "Kenapa hanya dia sendiri saja yang belum kembali?"
Ketika aku sampai, tiba-tiba telepon berdering dan mem¬beritahukan bahwa suamiku mengalami kelelahan berat. Mereka menyatakan bahwa hal itu biasa dialami di musim haji. Sebagian temannya satu kemah sudah membawanya ke rumah sakit..
Berita itu terputus sampai di situ saja. Namun berita itu datang dengan format yang terlalu global, parsial dan terlam¬bat!!
Kejadian-kejadianpun demikian cepat berlalu. Aku mera¬sakan bahwa ini adalah masalah besar. Mulailah berdatangan utusan kerabatku. Pembicaraan mereka seputar mengingat¬kan diriku pada kematian, dan mengharapkan agar aku ber¬sabar. Seolah-olah memang demikianlah kenyataannya ..
Pada waktu Maghrib hari itu juga, kala kesedihanku su¬dah sampai pada puncaknya, rasa takut juga sudah meng¬gelayuti hatiku, tiba-tiba pula datang seorang lelaki berwiba¬wa berumur lebih dari tujuh puluh tahun, mengenakan jubah besar sambil memegang tongkat. Ia mengucapkan salam kepadaku dan mencium kepalaku. Ia bertanya tentang kondisiku. Kemudian suaranya yang berbisik menelusup ke lubang telingaku: "Memujilah kepada Allah. Allah-lah yang memiliki segala yang Dia ambil dan Dia berikan. Segala sesuatu sudah ditentukan takdirnya di sisi Allah .. " aku mengucapkan: "Ya Allah berikanlah pahala kepadaku dalam musibah ini dan berikanlah kepadaku pengganti yang lebih baik.."
Ia merendahkan suaranya. Ia terisak dan air matanya berderai. Ia berkata: "Anakku Abdullah sudah meninggal dunia..." Aku menundukkan kepalaku dan menyembunyikan suaraku. Air mataku kubiarkan berderai. Namun sisa aroma tubuhnya terasa masih tercium di tanganku. Bahkan pulpen dan sebagian berkas-berkasnya masih berada di koperku, bahkan juga pakaian ihramnya.
Aku melihat pakaiannya masih berada di tempatnya, sepatunya, bahkan juga kata-katanya yang indah masih terus membuntuti diriku di setiap kesempatan ..
Masih ada juga sajadah yang sering digunakan untuk shalat di waktu akhir malam. Masih ada juga kertas-kertas kalender yang dia robek setiap hari dengan tangannya sambil! mengucapkan: "Inilah umur kita." Disetiap tempat ia memiliki pengaruh dan disetiap urusan ia memiliki jasa kebaikan.
Pada hari-hari itulah air mataku berderai dan gugur pulalah janinku. Namun segala kesedihan dan air mata itu terobati oleh ingatanku terhadap doanya sebelum fajar. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya karena puasanya di hari yang terik dan mengampuninya karena shalatnya di malam-malam itu, serta menghapuskan segala kesalahannya sebagaimana ia memaafkan segala kesalahan dan ketele¬doranku. Tiga tahun aku hidup bersamanya dalam keadaan senang dan bersyukur ..
Aku memperbaiki taubatku setiap hari. Dengan mening¬galnya suamiku, aku semakin memperbaiki taubatku, semen¬tara aku seolah-olah melihat berakhirnya kehidupan dunia ini dengan mata kepalaku sendiri, dan kematian yang datang tiba-tiba.
Angan-anganku juga semakin segar, mengiringi kegem¬biraanku, sementara aku selalu mengangkat tanganku sambil berdoa agar pertemuan itu terjadi di surga An-Na'im. Karena di sana ada kehidupan yang tidak mengenal kematian lagi, kenikmatan yang tidak mengenal kesusahan lagi.
Aku memuji Allah atas akhir hidupnya yang baik itu. Karena ia meninggal dunia dalam keadaan bertakbir dan mengucapkan talbiah. Yakni ketika suara-suara takbir itu bersahutan dan ia masuk ke tanah Al-Haram untuk shalat, bermunajah di hadapan Ka'bah. Aku memuji Allah atas keutamaan yang agung ini. Semoga Allah menerima haji dan sa'i-nya, mengampuni segala kekeliruannya serta mengangkat derajatnya.
Dan akupun memuji Allah, karena masih ada waktu terluang dalam hidupku ...
Sumber: Az-Zaman Al-Qaadim
Ia berjalan dengan cepat sambil mengumandangkan panggilan itu ... Ia pernah berkata dengan terus menganjur¬kan agar aku menunaikan kewajiban berhaji: "Apa lagi yang engkau tunggu? Sampai kapan lagi akan engkau tunda? Kesempatannya hanya sekali setahun. Sementara perbuatan itu adalah salah satu rukun Islam. Apa alasanmu menang¬guhkannya?
Sekarang ini perjalanannya mudah dan transportasi juga gampang. Sementara pengamanan juga maksimal. Aku ber¬fikir lama mencari alasan ...
Ia kembali berkata: "Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan: "Pahala haji yang mabrur tidak lain hanyalah Surga. "
Sesungguhnya itu adalah pahala dan ganjaran baik yan akan memberikan semangat dan motivasi ke dalam hati, memberikan kegembiraan dan keceriaan ..
Namun berbagai kegiatanku tampak menggunung dalam bayanganku. Dan berbagai alasan juga tetap menggayut diriku. Suaranya kembali bergema dengan semangat yang lebih besar lagi. Ia berkata: "Ini kesempatan yang tidak ada gantinya. Jangan ragu-ragu."
Aku berkata kepadanya: "Itu satu keputusan yang tergesa-gesa. Tunggu dulu, biar aku berfikir terlebih dahulu. Kemudian bersama siapa kita pergi? Bagaimana kita pergi? Dan di mana kita akan tinggal?" Berbagai pertanyaan mengalir dengan cepat bagaikan air bah. Apa yang akan kita perbuat? Padahal di sana nanti orang-orang berdesak-desakan. Terutama tahun ini, panas juga amat terik, sementara jumlah jama'ah haji banyak sekali?!
Namun dengan tiba-tiba, ia menanggapi ucapanku itu dengan suara tenang: "Urusannya mudah saja. Allah akan memudahkan segala yang sulit, semoga saja Allah mem¬permudah segala urusan itu.
Berbagai aktivitas yang terlihat sebelumnya dalam pan¬dangan mataku bagaikan gunung-gunung, akhimya memu¬dar. Berbagai alasan yang saling bertumpang-tindih bagai¬kan gelombang lautan juga mulai hilang. Aku memutuskan untuk menemaninya berangkat menunaikan haji ... Adakah porbuatan yang lebih utama daripada menemani suami melakukan perjalanan ibadah?
Perkawinan kami sudah berlangsung tiga tahun. Tiga tahun pula kami saling menolong untuk melakukan ibadah. Bila ia lupa, aku mengingatkannya dan bila aku berbuat keteledoran, ia juga memperingatkan diriku. Aku masih teri¬ngat hari-hari pertama pernikahan kami. Jari-jari tangannya kala itu memungut sebuah gunting kecil. Aku bertanya: "Untuk apa gunting kecil itu?" Dengan menyembunyikan senyumannya, ia menjawab: "Untuk menggunting bagian jenggotku yang berlebihan." Kenapa engkau memotong¬nya?" Tanyaku lagi. "Untuk memperbagus penampilan di hadapanmu." Jawabnya. Keherananku telah mendorong untuk melontarkan pertanyaan yang mengejutkan: "Engkau memperbagus penampilan di hadapanku dengan bermaksiat kepada Allah?"
Sungguh ia adalah lelaki yang amat baik sekali. Dengan cepat ia menerima peringatan itu dan bertaubat. Ia mengem¬balikan gunting itu ke tempatnya kembali, dan tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi selanjutnya ..
Pada saat-saat berwuquf di Mina, aku bagaikan anak perempuan kecil yang terus menggondeli bapaknya karena takut dan khawatir. Aku tidak pernah membiarkan tanganku lepas dari pergelangan tangan dan telapak tangannya ..
Aku menggelayuti kasih sayangnya yang belum pernah kurasakan dalam hidupku sebelumnya. Namun hatiku menjadi tentram oleh suara dzikirnya kepada Allah. Kemah-kemah sudah disesaki oleh kaum lelaki dan wanita yang melakukan haji ...
Berbagai cara untuk menentramkan jiwa cukup tersedia. Setiap hari, usai shalat Maghrib ada ceramah. Tiga haripun berlalu sarat dengan doa dan istighfar ..
Tidak ada bedanya antara siang dan malam. Yang terdengar hanyalah suara orang-orang yang berhaji. Gunung gunung dan lembah-lembah di kota Mekah itu memantulkan gema suara takbir dan talbiyah-talbiyah tersebut..
Di pertengahan malam. Suara-suara semakin melambun tinggi. Takbir-takbir juga bersahutan. Suamiku bertanya: "Apakah kita akan berthawaf dan melakukan sa'i malam ini juga?" Ia menunjukkan tekadnya yang demikian kuat terhadap diriku, padahal aku sedang hamil. Mari kita mulai dari sini. Namun jangan engkau membuat capek dirimu sendiri dan jangan memaksa tubuhmu." Aku berdoa kepada Allah ketika berthawaf semoga aku dianugerahi anak yang shalih. Akupun berjalan mengejar waktu. Bisa jadi, tahun depan kami kembali bersama-sama di sini lagi ..
Pada malam terakhir bagi kami di Mekah, kami melaku¬kan thawaf Al-Wada'. "Ya Allah, janganlah Engkau menja¬dikan ini sebagai kesempatan terakhir kami di rumahMu yang agung ini." Air mataku jatuh bercucuran ..
Ketika aku teringat ucapan Syaikh itu kemarin sore di kemah tentang keutamaan haji, yakni tatkala menyitir hadits Nabi:
"Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah, tidak melaku¬kan rafats (berkata-kata porno/jelek) dan tidak berbuat kefasikan, ia akan kembali ke rumahnya seperti bayi yang baru dilahirkan, "
Akupun langsung bertakbir: "Allahu Akbar" segala dosa yang engkau lakukan terhadap Rabbmu akan diampuni, dan segala kesalahan yang engkau lakukan akan dihapuskan ...
Aku memuji kepada Allah terhadap kebaikan yang amat hesar itu. Aku berdoa kepada Allah dengan penuh keren¬dahan hati dan kekhusyu'an agar aku termasuk orang-orang yang diterima amal ibadahnya.
Mataku tertumpu memandangi Baitullah Ka'bah. Air mataku kembali bercucuran sebagai air mata perpisahan. Aku berbicara kepada diriku sendiri: "Bukankah aku akan kembali lagi?" mataku kembali memandangi Ka'bah sekali ..
"Apakah aku akan kembali melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah?" Aku melepas dahagaku dengan meminum air Zamzam. Air mata dan berbagai pelajaranpun bercucuran, sementara aku meninggalkan kota Mekah dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Perpisahan mana yang lebih mengharukan daripada perpisahan dengan tanah Al-Haram dan Maqam Ibrahim?
Kami berangkat ke lapangan terbang Jeddah. Suasana sungguh penuh sesak, suara-suara ribut, sementara pengu¬muman jadwal penerbangan dilakukan dengan bersahut-sa¬hutan ...
Terlihat suasana aneh tanpa pembicaraan. Yang terlihat hanyalah masing-masing musafir dengan barang bawaannya, Kami perhatikan wajah-wajah serius, mata-mata memandang tajam dan kuping-kuping sibuk mendengarkan: kapan waktunya untuk take off?
Karena kami berada dalam rombongan besar. Sebagian di antara kami terpaksa terlambat berangkat karena tidak men¬dapatkan tempat duduk. Di antara orang-orang yang terlam¬bat itu adalah: suamiku ..
Kami sampai di lapangan terbang Riyadh dan langsung mengambil salah satu tepi ruang tunggu. Bersama para jama'ah haji, kami menunggu kerabat-kerabat kami yang lain.
Kami lama menunggu. Ketika terdengar pengumuman sampainya kloter selanjutnya, aku memuji Allah. Kamipun saling berdesakan untuk melihat wajah orang-orang yang baru datang itu. Semuanya sudah sampai, kecuali suamiku.
Salah seorang jama'ah haji yang sebelumnya bersama kami mendatangi kami dan berbicara dengan lambat sekali dan terbata-bata. Ia mengabarkan bahwa suamiku akan da¬tang terlambat pada kloter selanjutnya. Ia mengusulkan agar kami berangkat saja daripada menunggu terlalu lama .. Aku bertanya pada diriku sendiri: "Kenapa hanya dia sendiri saja yang belum kembali?"
Ketika aku sampai, tiba-tiba telepon berdering dan mem¬beritahukan bahwa suamiku mengalami kelelahan berat. Mereka menyatakan bahwa hal itu biasa dialami di musim haji. Sebagian temannya satu kemah sudah membawanya ke rumah sakit..
Berita itu terputus sampai di situ saja. Namun berita itu datang dengan format yang terlalu global, parsial dan terlam¬bat!!
Kejadian-kejadianpun demikian cepat berlalu. Aku mera¬sakan bahwa ini adalah masalah besar. Mulailah berdatangan utusan kerabatku. Pembicaraan mereka seputar mengingat¬kan diriku pada kematian, dan mengharapkan agar aku ber¬sabar. Seolah-olah memang demikianlah kenyataannya ..
Pada waktu Maghrib hari itu juga, kala kesedihanku su¬dah sampai pada puncaknya, rasa takut juga sudah meng¬gelayuti hatiku, tiba-tiba pula datang seorang lelaki berwiba¬wa berumur lebih dari tujuh puluh tahun, mengenakan jubah besar sambil memegang tongkat. Ia mengucapkan salam kepadaku dan mencium kepalaku. Ia bertanya tentang kondisiku. Kemudian suaranya yang berbisik menelusup ke lubang telingaku: "Memujilah kepada Allah. Allah-lah yang memiliki segala yang Dia ambil dan Dia berikan. Segala sesuatu sudah ditentukan takdirnya di sisi Allah .. " aku mengucapkan: "Ya Allah berikanlah pahala kepadaku dalam musibah ini dan berikanlah kepadaku pengganti yang lebih baik.."
Ia merendahkan suaranya. Ia terisak dan air matanya berderai. Ia berkata: "Anakku Abdullah sudah meninggal dunia..." Aku menundukkan kepalaku dan menyembunyikan suaraku. Air mataku kubiarkan berderai. Namun sisa aroma tubuhnya terasa masih tercium di tanganku. Bahkan pulpen dan sebagian berkas-berkasnya masih berada di koperku, bahkan juga pakaian ihramnya.
Aku melihat pakaiannya masih berada di tempatnya, sepatunya, bahkan juga kata-katanya yang indah masih terus membuntuti diriku di setiap kesempatan ..
Masih ada juga sajadah yang sering digunakan untuk shalat di waktu akhir malam. Masih ada juga kertas-kertas kalender yang dia robek setiap hari dengan tangannya sambil! mengucapkan: "Inilah umur kita." Disetiap tempat ia memiliki pengaruh dan disetiap urusan ia memiliki jasa kebaikan.
Pada hari-hari itulah air mataku berderai dan gugur pulalah janinku. Namun segala kesedihan dan air mata itu terobati oleh ingatanku terhadap doanya sebelum fajar. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya karena puasanya di hari yang terik dan mengampuninya karena shalatnya di malam-malam itu, serta menghapuskan segala kesalahannya sebagaimana ia memaafkan segala kesalahan dan ketele¬doranku. Tiga tahun aku hidup bersamanya dalam keadaan senang dan bersyukur ..
Aku memperbaiki taubatku setiap hari. Dengan mening¬galnya suamiku, aku semakin memperbaiki taubatku, semen¬tara aku seolah-olah melihat berakhirnya kehidupan dunia ini dengan mata kepalaku sendiri, dan kematian yang datang tiba-tiba.
Angan-anganku juga semakin segar, mengiringi kegem¬biraanku, sementara aku selalu mengangkat tanganku sambil berdoa agar pertemuan itu terjadi di surga An-Na'im. Karena di sana ada kehidupan yang tidak mengenal kematian lagi, kenikmatan yang tidak mengenal kesusahan lagi.
Aku memuji Allah atas akhir hidupnya yang baik itu. Karena ia meninggal dunia dalam keadaan bertakbir dan mengucapkan talbiah. Yakni ketika suara-suara takbir itu bersahutan dan ia masuk ke tanah Al-Haram untuk shalat, bermunajah di hadapan Ka'bah. Aku memuji Allah atas keutamaan yang agung ini. Semoga Allah menerima haji dan sa'i-nya, mengampuni segala kekeliruannya serta mengangkat derajatnya.
Dan akupun memuji Allah, karena masih ada waktu terluang dalam hidupku ...
Sumber: Az-Zaman Al-Qaadim
Labels:
Kisah
Melempar Raja
salah seorang raja Persia disuguhi makanan oleh salah seorang juru masaknya. Tiba-tiba setitik kotoran terjatuh di atas meja makan di hadapan sang raja.
Sang raja sangat marah dan beranjak dari meja tersebut dan menyuruh agar juru masak itu dibunuh.
Juru masak itu mengambil bejana yang biasa dipakai makan oleh sang raja
lalu memecahkannya dan dilemparkan ke atas meja dan ke hadapan sang raja. Dengan nada marah dan geram raja berkata “Mengapa engkau berani melakukan itu padahal engaku telah melakukan kesalahan yang sudah sepantasnya engkau dibunuh?” juru masak menjawab, “saya malu jika masyarakat mendengar bahwa sang raja membunuh juru masaknya gara-gara setitik kotoran yang jatuh tidak sengaja di atas meja makan. Dengan demikian, saya menginginkan kesalahanku lebih besar supaya sang raja layak membunuhku. “ Raja tersebut memaafkan juru masak itu dan meminta bawahannya untuk memberinya hadiah.
Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Al Ghazali
Sang raja sangat marah dan beranjak dari meja tersebut dan menyuruh agar juru masak itu dibunuh.
Juru masak itu mengambil bejana yang biasa dipakai makan oleh sang raja
lalu memecahkannya dan dilemparkan ke atas meja dan ke hadapan sang raja. Dengan nada marah dan geram raja berkata “Mengapa engkau berani melakukan itu padahal engaku telah melakukan kesalahan yang sudah sepantasnya engkau dibunuh?” juru masak menjawab, “saya malu jika masyarakat mendengar bahwa sang raja membunuh juru masaknya gara-gara setitik kotoran yang jatuh tidak sengaja di atas meja makan. Dengan demikian, saya menginginkan kesalahanku lebih besar supaya sang raja layak membunuhku. “ Raja tersebut memaafkan juru masak itu dan meminta bawahannya untuk memberinya hadiah.
Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Al Ghazali
Labels:
Kisah
Itulah Yang Terbaik
Dihikayatkan bahwa salah seorang laki-laki saleh, jika dirinya ditimpa musibah atau diuji dengan suatu petaka, ia selalu berkata, “itulah yang terbaik,” pada suatu malam ada seekor harimau yang datang ke rumahnya dan menerkam ayuam jantan miliknya. Ketika dia mendapat kabar ayamnya diterkam harimau, dia berkata, “itulah yang terbaik.” Pada malam berikutnya, anjing yang telah dilatih sedemikian rupa untuk menjaga rumahnya ada yang memukul sehingga mati. Ketika dia mendapat kabar bahwa anjingnya ada yang memukul hingga mati, dia berkata, “ itulah yang terbaik” pada malam berikutnya lagi keledai satu-satunya milik dia ada yang mencekik sehingga mati. Ketika dia mendapat kabar keledainya mati karena ada yang mencekik, dia berkata “itulah yang terbaik, jika Allah menghendaki
Istrinya merasa jengkel atas perkataan suaminya. Setiap kali mendapat musibah selalu berkata “itulah yang terbaik” sebab seolah – olah dia membiarkan kerusakan. Pada suatu malam, kampung yang menjadi tempat tinggal orang ini. Tidak ada seorangpun yang selamat dari penghuni kampung tersebut kecuali dia dan keluarganya.
Ternyata, gerombolan itu mendatangi setiap rumah dan membunuh penghuninya jika mereka mendengar suara kokok ayam, suara anjing dan suara keledai. Mereka mengetahui bahwa dengan terdengarnya suara-suara hewan tersebut pertanda bahwa sebuah rumah ada penghuninya. Sehingga, mereka mendatanginya dan membunuh penghuninya. Sementara itu, ayam, anjing dan keledai milik orang saleh tadi telah mati semua. Sehingga tidak terdengar ada suara apapun dari rumahnya. Maka dia selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh gerombolan itu. Dengan demikian, binasanya berbagai benda (ayam, anjing dan keledai) miliknya itu adalah keadaan yang terbaik dan sebagai sebab dirinya selamat dari pembunuhan. Mahasuci Allah!
Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Al Ghazali
Istrinya merasa jengkel atas perkataan suaminya. Setiap kali mendapat musibah selalu berkata “itulah yang terbaik” sebab seolah – olah dia membiarkan kerusakan. Pada suatu malam, kampung yang menjadi tempat tinggal orang ini. Tidak ada seorangpun yang selamat dari penghuni kampung tersebut kecuali dia dan keluarganya.
Ternyata, gerombolan itu mendatangi setiap rumah dan membunuh penghuninya jika mereka mendengar suara kokok ayam, suara anjing dan suara keledai. Mereka mengetahui bahwa dengan terdengarnya suara-suara hewan tersebut pertanda bahwa sebuah rumah ada penghuninya. Sehingga, mereka mendatanginya dan membunuh penghuninya. Sementara itu, ayam, anjing dan keledai milik orang saleh tadi telah mati semua. Sehingga tidak terdengar ada suara apapun dari rumahnya. Maka dia selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh gerombolan itu. Dengan demikian, binasanya berbagai benda (ayam, anjing dan keledai) miliknya itu adalah keadaan yang terbaik dan sebagai sebab dirinya selamat dari pembunuhan. Mahasuci Allah!
Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Al Ghazali
Labels:
Kisah
Mengkritik Raja Zalim
Ketika Al Hajaj Bin Yusuf Al Tsaqafi seorang pejabat zalim, bengis dan brutal, sedang berada di dalam sebuah bangunan mentereng, sementara itu orang-orang bashrah sedang berada di hadapannya, tiba – tiba muncul seorang anak muda yang termasuk bagian orang yang menentangnya. Umur anak muda tersebut sekira sepuluh tahun lebih. Ketika anak muda itu masuk ke dalam, ia sama sekali tidak menghiraukan dan menaruh perhatian kepada Al Hajaj. Anak muda ini hanya memandangi bangunan dan berbagai hal – hal yang menakjubkan. Ia melihat ke kiri dan ke kanan kemudian ia mengucapkan ayat, Apakah kamu mendirikan pada tiap – tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain – main dan kamu membuat benteng – benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? (QS Al Syu’ara (26) : 128-129)
Ketika mendengar anak muda tersebut membaca ayat di atas, Al Hajaj meluruskan punggungnya padahal ketika itu ia sedang duduk bersandar.
Al Hajaj berkata : wahai anak muda, saya lihat engkau cerdas dan pintar, apakah engkau hafal Al Quran?
Anak muda menjawab : apakah saya takut Al Quran sia – sia sehingga saya harus menghafalnya padahal Allah telah menjaganya
Al Hajaj berkata : apakah engkau mengumpulkan Al Quran?
Anak muda menjawab : apakah Al Quran bercerai – berai sehingga harus saya kumpulkan ?
Al Hajaj berkata : apakah engkau meletakkan Al Quran di belakang punggung mu?
Anak muda menjawab : saya berlindung kepada Allah dari menjadikan Al Quran di balik punggungku (menyembunyikan isinya yang sebenarnya
Al Hajaj berkata : Dengan amarah yang memuncak “keparat kamu, apa yang harus saya katakan?”
Anak muda menjawab : kamu yang keparat dan pengikutmu, katakan olehmu saya meletakkan Al Quran dalam dadaku
Al Hajaj berkata : bacakan barang sedikit Al Quran olehmu
Anak muda membaca : dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu melihat manusia (keluar) dari agama Allah berbondong - bondong
Al Hajaj berkata : bukan keluar, keparat, justru mereka masuk agama
Anak muda mmbantah: memang dulu mereka masuk ke dalam agama Allah. Adapun hari ini mereka keluar darinya
Al Hajaj bertanya : kenapa?
Anak muda menjawab: karena perbuatan busukmu kepada mereka
Al Hajaj berkata : siapa yang mendidikmu goblok?
Anak muda menjawab: ya, yang mengurusku
Al Hajaj berkata : “keparat kamu” kata Al Hajaj dengan nada kesal, kemudian bertanya lagi “siapa ibumu?
Anak muda menjawab: ibuku adalah perempuan yang melahirkanku
Al Hajaj bertanya : dimana kamu dilahirkan?
Anak muda menjawab: di sebagian tempat di dunia ini
Al Hajaj berkata : kamu ini gila
Anak muda menjawab : jika saya gila, tidak akan sampai ke tempatmu dan berada dihadapanmu sekarang ini
Al Hajaj bertanya : bagaimana pandanganmu tentang amir al mu’minin?
Anak muda menjawab: Allah mengasihi rahmat kepada Abu Hasan dan semoga menempatkannya di surga keabadiannya
Al Hajaj berkata : bukan dia yang saya maksud, tapi Abdul Malik bin marwan bodoh…..
Anak muda menjawab : semoga laknat Allah diberikan kepada manusia fasik dan penyeleweng itu
Al Hajaj bertanya : kenapa amil al mukminin harus dapat laknat?
Anak muda menjawab: dia telah melakukan dosa yang memenuhi bumi dan langit
Al Hajaj berkata : apa dosa dia?
Anak muda menjawab : karena dia mengangkatmu menjadi pemimpin rakyat, engkau menggasak harta rakyat dan mengalirkan darah mereka
Al Hajaj berkata : sambil berpaling ke arah para pejabat pembantunya “apa usul kalian untuk anak keparat ini?
Para pejabat berkata : bunuh saja sebab dia telah membangkang dan tidak mau bersatu dengan jammaah
Anak muda berkata : hajaj, pembantu – pembantumu ini lebih busuk daripada bawahan fir’aun sebab mereka berkata kepada fir’aun tentang musa dan saudaranya, Harun, beri tangguhlah dia dan saudaranya (QS Al A’raf [7] : 111) sementara bawahanmu menyuruh membunuhku. Nanti engkau saya gugat di hadapan Allah yaitu raja yang Maha Besar dan Maha Menghinakan orang-orang besar kepala
Al Hajaj berkata : tahan kata-katamu dan diam, saya khawatir diriku tidak dapat menahan amarah. Engkau saya hadiahi dengan seribu dirham, maukah kamu?
Anak muda menjawab : saya tidak perlu uang seribu dirham, mudah-mudahan Allah memutihkan mukamu dan meninggikan kakimu
Al Hajaj berkata : kepada bawahannya yang ada pada saat itu “tahukah kalian yang dimaksud anak muda ini?
Para pejabat berkata : tuan gubernur lebih tahu
Al Hajaj berkata : yang dimaksud memutihkan muka adalah dia menghendaki mudah-mudahan Tuhan menjadikanku buta dan berpenyakit kusta. Adapun yang dimaksud meninggikan kakiku adalah dia berharap bahwa Tuhan menggantung dan menyalibku
Al Hajaj berkata : sambil melirik ke anak muda “bagaimana menurutmu apa yang saya katakan tadi?
Anak muda menjawab : cerdas sekali engkau, wahai keparat
dengan amarah memuncak, ia memerintahkan agar anak itu dibunuh. Kebetulan saat itu Al Raqasyi (panglima militer busuk dan ganas pada masa kekuasaan khalifah Abdul Malik bin Marwan) hadir di tempat pertemuan
Al Raqasyi berkata : baginda yang mulia, hibahkan saja anak ini kepadaku
Al Hajaj berkata : silahkan ambil anak ini
Anak muda berkata : saya tidak tahu mana yang lebih goblok apakah yang menghibahkan atau yang meminta hibah?
Al Raqasyi berkata : kamu ini gila, saya telah menyelamatkanmu supaya tidak dibunuh oleh baginda gubernur sedangkan kamu membalasku dengan kata-kata seperti itu
Anak muda berkata : saya sangat senang mati syahid asalkan saya mendapat kebahagiaan, demi Allah terbunuh di jalan Allah lebih saya sukai daripada harus kembali kepada keluargaku dalam keadaan tangan hampa
Al Hajaj berkata : anak muda, saya telah memerintahkan kepada bawahanku agar menyediakan uang sebanyak seratur ribu dirham dan memaafkanmu karena kamu masih muda, cerdas dan sangat kuat bertawakal kepada Allah. Engkau jangan sekali – kali lancang kepada para pejabat sebab engkau akan tahu akibatnya dan engkau tidak akan diampuni lagi
Anak muda berkata : ampunan itu hanya milik Allah bukan milikmu, ucapan terima kasih hanya layak untuk Nya bukan kepadamu. Lagipula mudah-mudahan Allah tidak mempertemukan kembali diriku dan dirimu
Setelah mengeluarkan kata – kata terakhir itu, anak muda tadi membalikkan badan dan bermaksud meninggalkan ruangan. Beberapa bodyguard Al Hajaj segera memburunya. Namun….
Al Hajaj berkata : biarkan saja dia, demi Allah saya belum pernah melihat ada anak muda seberani dan selancang dia. Mudah-mudahan saya tidak menemukan lagi manusia semacam dia dan dia tidak menemukan orang seperti saya. Andai anak ini hidup lama, pasti ia akan menjadi manusia yang paling ajaib pada masanya
Diambil dari kisah – kisah Imam Al Ghazali
Ketika mendengar anak muda tersebut membaca ayat di atas, Al Hajaj meluruskan punggungnya padahal ketika itu ia sedang duduk bersandar.
Al Hajaj berkata : wahai anak muda, saya lihat engkau cerdas dan pintar, apakah engkau hafal Al Quran?
Anak muda menjawab : apakah saya takut Al Quran sia – sia sehingga saya harus menghafalnya padahal Allah telah menjaganya
Al Hajaj berkata : apakah engkau mengumpulkan Al Quran?
Anak muda menjawab : apakah Al Quran bercerai – berai sehingga harus saya kumpulkan ?
Al Hajaj berkata : apakah engkau meletakkan Al Quran di belakang punggung mu?
Anak muda menjawab : saya berlindung kepada Allah dari menjadikan Al Quran di balik punggungku (menyembunyikan isinya yang sebenarnya
Al Hajaj berkata : Dengan amarah yang memuncak “keparat kamu, apa yang harus saya katakan?”
Anak muda menjawab : kamu yang keparat dan pengikutmu, katakan olehmu saya meletakkan Al Quran dalam dadaku
Al Hajaj berkata : bacakan barang sedikit Al Quran olehmu
Anak muda membaca : dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu melihat manusia (keluar) dari agama Allah berbondong - bondong
Al Hajaj berkata : bukan keluar, keparat, justru mereka masuk agama
Anak muda mmbantah: memang dulu mereka masuk ke dalam agama Allah. Adapun hari ini mereka keluar darinya
Al Hajaj bertanya : kenapa?
Anak muda menjawab: karena perbuatan busukmu kepada mereka
Al Hajaj berkata : siapa yang mendidikmu goblok?
Anak muda menjawab: ya, yang mengurusku
Al Hajaj berkata : “keparat kamu” kata Al Hajaj dengan nada kesal, kemudian bertanya lagi “siapa ibumu?
Anak muda menjawab: ibuku adalah perempuan yang melahirkanku
Al Hajaj bertanya : dimana kamu dilahirkan?
Anak muda menjawab: di sebagian tempat di dunia ini
Al Hajaj berkata : kamu ini gila
Anak muda menjawab : jika saya gila, tidak akan sampai ke tempatmu dan berada dihadapanmu sekarang ini
Al Hajaj bertanya : bagaimana pandanganmu tentang amir al mu’minin?
Anak muda menjawab: Allah mengasihi rahmat kepada Abu Hasan dan semoga menempatkannya di surga keabadiannya
Al Hajaj berkata : bukan dia yang saya maksud, tapi Abdul Malik bin marwan bodoh…..
Anak muda menjawab : semoga laknat Allah diberikan kepada manusia fasik dan penyeleweng itu
Al Hajaj bertanya : kenapa amil al mukminin harus dapat laknat?
Anak muda menjawab: dia telah melakukan dosa yang memenuhi bumi dan langit
Al Hajaj berkata : apa dosa dia?
Anak muda menjawab : karena dia mengangkatmu menjadi pemimpin rakyat, engkau menggasak harta rakyat dan mengalirkan darah mereka
Al Hajaj berkata : sambil berpaling ke arah para pejabat pembantunya “apa usul kalian untuk anak keparat ini?
Para pejabat berkata : bunuh saja sebab dia telah membangkang dan tidak mau bersatu dengan jammaah
Anak muda berkata : hajaj, pembantu – pembantumu ini lebih busuk daripada bawahan fir’aun sebab mereka berkata kepada fir’aun tentang musa dan saudaranya, Harun, beri tangguhlah dia dan saudaranya (QS Al A’raf [7] : 111) sementara bawahanmu menyuruh membunuhku. Nanti engkau saya gugat di hadapan Allah yaitu raja yang Maha Besar dan Maha Menghinakan orang-orang besar kepala
Al Hajaj berkata : tahan kata-katamu dan diam, saya khawatir diriku tidak dapat menahan amarah. Engkau saya hadiahi dengan seribu dirham, maukah kamu?
Anak muda menjawab : saya tidak perlu uang seribu dirham, mudah-mudahan Allah memutihkan mukamu dan meninggikan kakimu
Al Hajaj berkata : kepada bawahannya yang ada pada saat itu “tahukah kalian yang dimaksud anak muda ini?
Para pejabat berkata : tuan gubernur lebih tahu
Al Hajaj berkata : yang dimaksud memutihkan muka adalah dia menghendaki mudah-mudahan Tuhan menjadikanku buta dan berpenyakit kusta. Adapun yang dimaksud meninggikan kakiku adalah dia berharap bahwa Tuhan menggantung dan menyalibku
Al Hajaj berkata : sambil melirik ke anak muda “bagaimana menurutmu apa yang saya katakan tadi?
Anak muda menjawab : cerdas sekali engkau, wahai keparat
dengan amarah memuncak, ia memerintahkan agar anak itu dibunuh. Kebetulan saat itu Al Raqasyi (panglima militer busuk dan ganas pada masa kekuasaan khalifah Abdul Malik bin Marwan) hadir di tempat pertemuan
Al Raqasyi berkata : baginda yang mulia, hibahkan saja anak ini kepadaku
Al Hajaj berkata : silahkan ambil anak ini
Anak muda berkata : saya tidak tahu mana yang lebih goblok apakah yang menghibahkan atau yang meminta hibah?
Al Raqasyi berkata : kamu ini gila, saya telah menyelamatkanmu supaya tidak dibunuh oleh baginda gubernur sedangkan kamu membalasku dengan kata-kata seperti itu
Anak muda berkata : saya sangat senang mati syahid asalkan saya mendapat kebahagiaan, demi Allah terbunuh di jalan Allah lebih saya sukai daripada harus kembali kepada keluargaku dalam keadaan tangan hampa
Al Hajaj berkata : anak muda, saya telah memerintahkan kepada bawahanku agar menyediakan uang sebanyak seratur ribu dirham dan memaafkanmu karena kamu masih muda, cerdas dan sangat kuat bertawakal kepada Allah. Engkau jangan sekali – kali lancang kepada para pejabat sebab engkau akan tahu akibatnya dan engkau tidak akan diampuni lagi
Anak muda berkata : ampunan itu hanya milik Allah bukan milikmu, ucapan terima kasih hanya layak untuk Nya bukan kepadamu. Lagipula mudah-mudahan Allah tidak mempertemukan kembali diriku dan dirimu
Setelah mengeluarkan kata – kata terakhir itu, anak muda tadi membalikkan badan dan bermaksud meninggalkan ruangan. Beberapa bodyguard Al Hajaj segera memburunya. Namun….
Al Hajaj berkata : biarkan saja dia, demi Allah saya belum pernah melihat ada anak muda seberani dan selancang dia. Mudah-mudahan saya tidak menemukan lagi manusia semacam dia dan dia tidak menemukan orang seperti saya. Andai anak ini hidup lama, pasti ia akan menjadi manusia yang paling ajaib pada masanya
Diambil dari kisah – kisah Imam Al Ghazali
Labels:
Kisah
Malaikat Pembawa Tombak
seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar ada yang dikenal dengan sebutan Abu Mughlaq. ia adalah seorang pedagang yang biasa mendagangkan barangnya sendiri dan barang orang lain. ia sudah biasa membawa barang dagangan keliling daerah. laki-laki ini seorang ahli ibadan dan sangat wara'
suatu waktu ia pergi untuk berdagang. di tengah jalan ia dicegat oleh seorang rampok yang membawa pedang. rampok tersebut berkata, "letakkan semua bawaanmu sebab saya akan membunuhmu!" Abu Mughlaq berkata, "apakah yang engkau inginkan dariku, harta atau nyawa?" rampok berkata, "saya tidak menginginkan hartamu tetapi saya menginginkan nyawamu" Abu Mughlaq berkata " kalau begitu, berilah saya kesempatan untuk melakukan shalat empat rakaat sebelum engkau membunuhku! rampok berkata, "silakan lakukan semaumu!" maka Abu Mughlaq mengambil air wudhu lalu shalat empat rakaat.
doa yang dibaca oleh Abu Mughlaq pada sujud yang terakhir adalah
"wahai Dzat yang maha baik, wahai Pemilik Arasy yang agung, wahai Dzat yang melakukan segala sesuatu yang Engkau kehendaki, demi keagungan Mu yang tidak ada bandingnya, demi kerajaan Mu yang tidak ada tandingnya, dan demi cahaya Mu yang meemnuhi tiang-tiang Arasy Mu. saya meminta agar Engkau melindungiku dari perampok ini! Wahai Maha Penolong, tolonglah saya!, Wahai Maha Penolong, tolonglah saya!, Wahai Maha Penolong, tolonglah saya!
Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda yang membawa tombak kecil (harbah) yang diletakkan di antara dua telinga kudanya. Ketika rampok tadi melihat penunggang kuda yang datang, ia memandang ke arahnya. Si penunggang kuda tadi menusuk rampok tersebut hingga mati.
Setelah berhasil membunuh rampok, penunggang kuda tersebut menghampiri Abu Mughlaq. Ia berkata kepadanya, “berdirilah engkau!” Abu Mughlaq bangun dan berkata “siapakah engkau? Demi bapak dan ibuku hari ini engkau sungguh dijadikan penolongku oleh Allah” penunggang kuda berkata “ saya adalah salah seorang malaikat yang berada di langit ke empat. Engkau tadi berdoa dengan doamu yang wal samapai saya mendengar bunyi gemerincing di pintu langit. Kemudian engaku berdoa dengan doamu yang kedua sehingga saya mendengar penghuni langit ribut. Kemudian engkau berdoa degnan doa yang ketiga sehingga saya mendengar perkataan, ‘itu adalah doa orang yang terpepet!’ maka saya meminta kepada Allah agar memberi kekuasaan kepadaku untuk membunuh rampok ini”
Al Hasan berkata, “barang siapa berwudhu untuk melakukan shalat sebanyak empat rakaat dan berdoa dengan doa ini, ia akan mendapatkan pengabulan baik dalam keadaan terpepet atau tidak.
Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Al Ghazali
suatu waktu ia pergi untuk berdagang. di tengah jalan ia dicegat oleh seorang rampok yang membawa pedang. rampok tersebut berkata, "letakkan semua bawaanmu sebab saya akan membunuhmu!" Abu Mughlaq berkata, "apakah yang engkau inginkan dariku, harta atau nyawa?" rampok berkata, "saya tidak menginginkan hartamu tetapi saya menginginkan nyawamu" Abu Mughlaq berkata " kalau begitu, berilah saya kesempatan untuk melakukan shalat empat rakaat sebelum engkau membunuhku! rampok berkata, "silakan lakukan semaumu!" maka Abu Mughlaq mengambil air wudhu lalu shalat empat rakaat.
doa yang dibaca oleh Abu Mughlaq pada sujud yang terakhir adalah
"wahai Dzat yang maha baik, wahai Pemilik Arasy yang agung, wahai Dzat yang melakukan segala sesuatu yang Engkau kehendaki, demi keagungan Mu yang tidak ada bandingnya, demi kerajaan Mu yang tidak ada tandingnya, dan demi cahaya Mu yang meemnuhi tiang-tiang Arasy Mu. saya meminta agar Engkau melindungiku dari perampok ini! Wahai Maha Penolong, tolonglah saya!, Wahai Maha Penolong, tolonglah saya!, Wahai Maha Penolong, tolonglah saya!
Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda yang membawa tombak kecil (harbah) yang diletakkan di antara dua telinga kudanya. Ketika rampok tadi melihat penunggang kuda yang datang, ia memandang ke arahnya. Si penunggang kuda tadi menusuk rampok tersebut hingga mati.
Setelah berhasil membunuh rampok, penunggang kuda tersebut menghampiri Abu Mughlaq. Ia berkata kepadanya, “berdirilah engkau!” Abu Mughlaq bangun dan berkata “siapakah engkau? Demi bapak dan ibuku hari ini engkau sungguh dijadikan penolongku oleh Allah” penunggang kuda berkata “ saya adalah salah seorang malaikat yang berada di langit ke empat. Engkau tadi berdoa dengan doamu yang wal samapai saya mendengar bunyi gemerincing di pintu langit. Kemudian engaku berdoa dengan doamu yang kedua sehingga saya mendengar penghuni langit ribut. Kemudian engkau berdoa degnan doa yang ketiga sehingga saya mendengar perkataan, ‘itu adalah doa orang yang terpepet!’ maka saya meminta kepada Allah agar memberi kekuasaan kepadaku untuk membunuh rampok ini”
Al Hasan berkata, “barang siapa berwudhu untuk melakukan shalat sebanyak empat rakaat dan berdoa dengan doa ini, ia akan mendapatkan pengabulan baik dalam keadaan terpepet atau tidak.
Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Al Ghazali
Labels:
Kisah
Sunday, March 1, 2009
Pria Hebat
Dilihat dari usianya beliau sdh tdk muda lagi, usia yg sdh senja bahkan sdh mendekati malam, pak Suyatno 58 tahun, kesehariannya diisi dg merawat istrinya yg sakit istrinya juga sdh tua. Mrka menikah sdh lebih 32 tahun Mrka dikarunia 4 orang anak. Stlh istrinya melahirkan anak ke empat, disinilah awal cobaan menerpa, tiba2 kakinya lumpuh & tdk bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya mnjd lemah bahkan terasa tdk bertulang. Lidahnyapun sdh tdk bisa digerakkan lagi.Setiap hari pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, & mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sblm berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tdk merasa kesepian.
Walau istrinya tdk dpt bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tdk begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang utk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian & selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tdk bisa menanggapi, pak Suyatno sdh cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dg sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mrka.Skrg anak2 mrka sdh dewasa tinggal si bungsu yg msh kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mrka sambil menjenguk ibunya. Stlh anak2 menikah, mrka tinggal dg keluarga masing2. Pak Suyatno sdh lama memutuskan bahwa dia yg merawat ibu anak2nya & yg dia inginkan hanya satu yaitu semua anaknya berhasil.
Dg kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata "Pak, kami ingin sekali merawat ibu karena semenjak kami kcl, kami melihat bpk merawat ibu & tdk ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bpk. bahkan bpk tdk ijinkan kami menjaga ibu". Dg air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya : "Ini sdh keempat kalinya kami mengijinkan bpkmenikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bpk menikmati masa tua bpk. Dg berkorban seperti ini kami tdk tega melihat bpk, kami janji kami akan merawat ibu bergantian".
Pak Suyatno menjawab dg jawaban yg tdk diduga anak2 mrka : "Anak2ku Jikalau hidup didunia ini hanya utk nafsu Mungkin bpk akan menikah lagi, tapi ketahuilah bahwa dg adanya ibu kalian disampingku itu, sdh lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian"…….. .. sejenak kerongkongannya tersekat, "Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dg penuh cinta, yg tdk satupun dpt menggantikannya, dg apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya sepertiIni ?"…. Kalian menginginkan bpk bahagia, apakah batin bpk bisa bahagia meninggalkan ibumu dg keadaanya skrg". " Kalian menginginkan bpk yg msh diberi Allah kesehatan ini, dirawat olh orang lain ?" "Bagaimana dg ibumu yg msh sakit ?"
Sampailah akhirnya pak Suyatno diun&g olh salah satu stasiun TV swasta utk mnjd nara sumber di acara islami selepas shubuh, Mrka mengajukan pertanyaan kpd pak Suyatno bagaimana caranya mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yg sdh tdk bisa apa2. Di saat itu pak Suyatno menangis. Tamu yg hadir di studio yg kebanyakan kaum perempuanpun juga tdk sanggup menahan haru. Di situlah pak Suyatno bercerita :" Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tdk mencintai karena Allah, maka semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya mnjd pendamping hidup saya, & sewaktu dia sehat diapun dg sabar merawat saya, mencintai saya dg hati & bathinnya, bukan dg lahiriah saja, & dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.."
Skrg dia sakit, berkorban utk saya, karena Allah & itu merupakan ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit. Setiap malam saya bersujud & menangis & saya dpt bercerita kpd Allah. Di atas sajadah.. saya yakin hanya kpd Allah saya percaya utk menyimpan & mendengar rahasia saya..
Walau istrinya tdk dpt bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tdk begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang utk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian & selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tdk bisa menanggapi, pak Suyatno sdh cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dg sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mrka.Skrg anak2 mrka sdh dewasa tinggal si bungsu yg msh kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mrka sambil menjenguk ibunya. Stlh anak2 menikah, mrka tinggal dg keluarga masing2. Pak Suyatno sdh lama memutuskan bahwa dia yg merawat ibu anak2nya & yg dia inginkan hanya satu yaitu semua anaknya berhasil.
Dg kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata "Pak, kami ingin sekali merawat ibu karena semenjak kami kcl, kami melihat bpk merawat ibu & tdk ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bpk. bahkan bpk tdk ijinkan kami menjaga ibu". Dg air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya : "Ini sdh keempat kalinya kami mengijinkan bpkmenikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bpk menikmati masa tua bpk. Dg berkorban seperti ini kami tdk tega melihat bpk, kami janji kami akan merawat ibu bergantian".
Pak Suyatno menjawab dg jawaban yg tdk diduga anak2 mrka : "Anak2ku Jikalau hidup didunia ini hanya utk nafsu Mungkin bpk akan menikah lagi, tapi ketahuilah bahwa dg adanya ibu kalian disampingku itu, sdh lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian"…….. .. sejenak kerongkongannya tersekat, "Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dg penuh cinta, yg tdk satupun dpt menggantikannya, dg apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya sepertiIni ?"…. Kalian menginginkan bpk bahagia, apakah batin bpk bisa bahagia meninggalkan ibumu dg keadaanya skrg". " Kalian menginginkan bpk yg msh diberi Allah kesehatan ini, dirawat olh orang lain ?" "Bagaimana dg ibumu yg msh sakit ?"
Sampailah akhirnya pak Suyatno diun&g olh salah satu stasiun TV swasta utk mnjd nara sumber di acara islami selepas shubuh, Mrka mengajukan pertanyaan kpd pak Suyatno bagaimana caranya mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yg sdh tdk bisa apa2. Di saat itu pak Suyatno menangis. Tamu yg hadir di studio yg kebanyakan kaum perempuanpun juga tdk sanggup menahan haru. Di situlah pak Suyatno bercerita :" Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tdk mencintai karena Allah, maka semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya mnjd pendamping hidup saya, & sewaktu dia sehat diapun dg sabar merawat saya, mencintai saya dg hati & bathinnya, bukan dg lahiriah saja, & dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.."
Skrg dia sakit, berkorban utk saya, karena Allah & itu merupakan ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit. Setiap malam saya bersujud & menangis & saya dpt bercerita kpd Allah. Di atas sajadah.. saya yakin hanya kpd Allah saya percaya utk menyimpan & mendengar rahasia saya..
Labels:
Kisah
Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika.
Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan
bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang
diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama
Islam bahkan ia mampu mendalaminya.
Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam.
Ketika berada di Amerika , ia berkenalan dengan salah
seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan
semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.
Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di
sebuah perkampungan di
Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang
terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut
masuk ke dalam gereja.
Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus
mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut
masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening,
sebagaimana kebiasaan mereka.
Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk
memberikan penghor-matan lantas kembali duduk.
Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat
kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada
seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini."
Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.
Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu
berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari
tempatnya.
Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku
minta ia keluar dari sini dan aku menjamin
keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.
Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta,
"Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang mus-lim." Pendeta itu menjawab,
"Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendakkeluar.
Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini,
yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk
memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya.
Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.
Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada
anda 22 pertanyaan dan anda harus menja-wabnya
dengan tepat." Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silahkan!"
Sang pendeta pun mulai bertanya,
1. Sebutkan satu yang tiada duanya,
2. dua yang tiada tiganya,
3. tiga yang tiada empatnya,
4. empat yang tiada limanya,
5. lima yang tiada enamnya,
6. enam yang tiada tujuhnya,
7. tujuh yang tiada delapannya,
8. delapan yang tiada sembilannya,
9. sembilan yang tiada sepuluhnya,
10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11. sebelas yang tiada dua belasnya,
12. dua belas yang tiada tiga belasnya,
13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya.
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak
mempunyai ruh
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa
isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia
tidakmenyukainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan
tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang
diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu
dan siapakah yang terpelihara dari batu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai
30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di
bawah sinaran matahari?"
Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca basmalah ia berkata.
1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah
SWT berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda
(kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).
3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika
Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika
me-negakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.
5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan
makhluk.
7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis.AllahSWT berfirman,
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak
melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak
seimbang." (Al-Mulk: 3).
8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman.
Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit.
Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas
kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi
Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak,
darah, kutu dan belalang dan ****
10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman,
"Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-
An'am: 160).
11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudaraYusuf
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang terdapat
dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya,
Lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah
daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah
dengan ayah dan ibunya.
14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adl wkt Shubuh.
Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menying-sing.
" (At-Takwir: 18). (At-Takwir 17 : demi malam apabila telah hampir
Meninggalkan gelapnya, ) 15. Kuburan berjalan membawa isinya adalah ikan
Yang menelan Nabi Yunus AS.
16. Yang berdusta namun masuk ke dalam surga Mereka adalah saudara- saudara
Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, kami
sesungguhnya pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat
Barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.
" Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,
" tak ada cercaaan ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku
akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak disukai adalah suara keledai.
Allah SWT berfirman, "Dan sederhanalah kamu dlm berjalan, dan lunak-
kanlah suaramu. Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara
Keledai." (Luqman: 19).
18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam,
malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah
Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT
Berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (AlAnbiya': )
20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan
batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul
Kahfi (penghuni gua).
21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya
wanita, sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu daya kaum
wanita itu sangatlah besar." (Yusuf : 28).
22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun,
setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran
matahari
maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan
buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua
di siang hari.
Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi.
Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"
Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.
Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar Menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak. Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "
Pendeta tersebut berkata, "Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.
" Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."
Sang pendeta pun berkata,
"Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah."
Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk
agama Islam. Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa
Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya telah mengetahui bahwa
Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan
akan menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di dunia dan di akherat.. Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih tertutup bahkan cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya.. Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada mereka yang mau berpikir.. AMIEN.
sumber : milis
bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang
diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama
Islam bahkan ia mampu mendalaminya.
Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam.
Ketika berada di Amerika , ia berkenalan dengan salah
seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan
semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.
Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di
sebuah perkampungan di
Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang
terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut
masuk ke dalam gereja.
Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus
mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut
masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening,
sebagaimana kebiasaan mereka.
Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk
memberikan penghor-matan lantas kembali duduk.
Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat
kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada
seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini."
Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.
Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu
berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari
tempatnya.
Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku
minta ia keluar dari sini dan aku menjamin
keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.
Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta,
"Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang mus-lim." Pendeta itu menjawab,
"Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendakkeluar.
Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini,
yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk
memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya.
Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.
Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada
anda 22 pertanyaan dan anda harus menja-wabnya
dengan tepat." Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silahkan!"
Sang pendeta pun mulai bertanya,
1. Sebutkan satu yang tiada duanya,
2. dua yang tiada tiganya,
3. tiga yang tiada empatnya,
4. empat yang tiada limanya,
5. lima yang tiada enamnya,
6. enam yang tiada tujuhnya,
7. tujuh yang tiada delapannya,
8. delapan yang tiada sembilannya,
9. sembilan yang tiada sepuluhnya,
10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11. sebelas yang tiada dua belasnya,
12. dua belas yang tiada tiga belasnya,
13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya.
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak
mempunyai ruh
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa
isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia
tidakmenyukainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan
tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang
diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu
dan siapakah yang terpelihara dari batu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai
30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di
bawah sinaran matahari?"
Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca basmalah ia berkata.
1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah
SWT berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda
(kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).
3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika
Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika
me-negakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.
5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan
makhluk.
7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis.AllahSWT berfirman,
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak
melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak
seimbang." (Al-Mulk: 3).
8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman.
Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit.
Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas
kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi
Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak,
darah, kutu dan belalang dan ****
10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman,
"Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-
An'am: 160).
11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudaraYusuf
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang terdapat
dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya,
Lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah
daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah
dengan ayah dan ibunya.
14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adl wkt Shubuh.
Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menying-sing.
" (At-Takwir: 18). (At-Takwir 17 : demi malam apabila telah hampir
Meninggalkan gelapnya, ) 15. Kuburan berjalan membawa isinya adalah ikan
Yang menelan Nabi Yunus AS.
16. Yang berdusta namun masuk ke dalam surga Mereka adalah saudara- saudara
Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, kami
sesungguhnya pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat
Barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.
" Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,
" tak ada cercaaan ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku
akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak disukai adalah suara keledai.
Allah SWT berfirman, "Dan sederhanalah kamu dlm berjalan, dan lunak-
kanlah suaramu. Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara
Keledai." (Luqman: 19).
18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam,
malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah
Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT
Berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (AlAnbiya': )
20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan
batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul
Kahfi (penghuni gua).
21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya
wanita, sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu daya kaum
wanita itu sangatlah besar." (Yusuf : 28).
22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun,
setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran
matahari
maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan
buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua
di siang hari.
Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi.
Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"
Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.
Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar Menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak. Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "
Pendeta tersebut berkata, "Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.
" Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."
Sang pendeta pun berkata,
"Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah."
Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk
agama Islam. Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa
Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya telah mengetahui bahwa
Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan
akan menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di dunia dan di akherat.. Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih tertutup bahkan cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya.. Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada mereka yang mau berpikir.. AMIEN.
sumber : milis
Labels:
Kisah
kopi asin
Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan. Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya seorang laki² biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. Saat pesta telah usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya. Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak mau mengecewakannya.
Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. Si laki² begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang gadis dalam hatinya. Tiba² si laki² berkata pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam. Saya ingin membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta meminum kopinya.
Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepadanya,"Kebiasaanmu kok sangat aneh?". "Saat aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku sangat suka ber-main² di laut, di mana aku bisa merasakan laut... asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi ini",jawab si laki². "Sekarang, tiap kali aku minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku, tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung halamanku, rindu kedua orangtuaku yang masih tinggal di sana", lanjutnya dengan mata berlinang. Sang gadis begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati. Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki² yang mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai dan begitu peduli akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang gadis memulai pembicaraan, mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya, keluarganya... Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua. Dan itu juga merupakan awal yang indah dari kisah cinta mereka. Mereka terus menjalin hubungan. Sang gadis menyadari bahwa ia adalah laki² idaman baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh perhatian... pokoknya ia adalah pria baik yang hampir saja diabaikan begitu saja. Untung saja ada kopi asin !
Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri menikah dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia... Dan, tiap ia membuatkan suaminya secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam didalamnya, karena ia tahu itulah kesukaan suaminya.
Setelah 40 tahun berlalu, si laki² meninggal dunia. Ia meninggalkan sepucuk surat bagi istrinya:"Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang hidupku. Ini adalah satu²nya kebohonganku padamu---tentang kopi asin. Kamu ingat kan saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu. Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku, tapi aku begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun darimu... Sekarang aku sedang sekarat. Tidak ada lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu: Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalmu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal atas semua yang telah aku lakukan. Aku tidak pernah menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi, aku tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu istriku walaupun aku harus minum kopi asin lagi."
Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu. Suatu hari seseorang menanyainya, "Bagaimana rasa kopi asin?", ia menjawab, "Rasanya begitu manis."
sumber : milis
Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. Si laki² begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang gadis dalam hatinya. Tiba² si laki² berkata pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam. Saya ingin membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta meminum kopinya.
Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepadanya,"Kebiasaanmu kok sangat aneh?". "Saat aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku sangat suka ber-main² di laut, di mana aku bisa merasakan laut... asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi ini",jawab si laki². "Sekarang, tiap kali aku minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku, tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung halamanku, rindu kedua orangtuaku yang masih tinggal di sana", lanjutnya dengan mata berlinang. Sang gadis begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati. Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki² yang mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai dan begitu peduli akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang gadis memulai pembicaraan, mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya, keluarganya... Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua. Dan itu juga merupakan awal yang indah dari kisah cinta mereka. Mereka terus menjalin hubungan. Sang gadis menyadari bahwa ia adalah laki² idaman baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh perhatian... pokoknya ia adalah pria baik yang hampir saja diabaikan begitu saja. Untung saja ada kopi asin !
Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri menikah dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia... Dan, tiap ia membuatkan suaminya secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam didalamnya, karena ia tahu itulah kesukaan suaminya.
Setelah 40 tahun berlalu, si laki² meninggal dunia. Ia meninggalkan sepucuk surat bagi istrinya:"Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang hidupku. Ini adalah satu²nya kebohonganku padamu---tentang kopi asin. Kamu ingat kan saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu. Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku, tapi aku begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun darimu... Sekarang aku sedang sekarat. Tidak ada lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu: Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalmu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal atas semua yang telah aku lakukan. Aku tidak pernah menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi, aku tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu istriku walaupun aku harus minum kopi asin lagi."
Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu. Suatu hari seseorang menanyainya, "Bagaimana rasa kopi asin?", ia menjawab, "Rasanya begitu manis."
sumber : milis
Labels:
Kisah
Bulu Ayam
Seorang wanita mengulang sepotong gossip mengenai
tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh komunitas
mengetahui ceriteranya. Orang yang digossipin itu
sudah tentu sakit hati dan merasa terpukul.
Kemudian si wanita yang bertanggung jawab karena telah
menyebarluaskan gossip tersebut menemukan bahwa
gossip itu betul-betul salah. Dia menyesal dan datang
kepada orang tua yang bijak untuk mencari tahu apa yang
dapat dilakukannya untuk memperbaiki kesalahannya itu.
"Pergilah ke pasar," katanya, "dan beli seekor ayam,
bunuh. Kemudian dalam perjalanan pulang, cabuti bulunya
dan buang satu persatu di sepanjang jalan pulang."
Meski kaget mendengar saran itu, si wanita melakukan
apa yang disuruh kepadanya. Keesokan harinya si orang
bijak itu berkata, "Sekarang pergilah dan kumpulkan semua
bulu yang kau buang kemarin dan bawa kembali kepadaku."
Si wanita pun menyusuri jalan yang sama, namun angin
telah melemparkan semua bulu-bulu itu kemana-mana.
Setelah mencari-cari selama berjam-jam, ia kembali
hanya dengan tiga potong bulu. "Lihat kan?" kata si
orang bijak, "sangat mudah melemparkannya, namun
tidak mungkin menariknya kembali. Begitu pula dengan gossip.
Tidak sulit menyebarluaskan rumor, namun sekali
terlempar, anda tidak akan pernah secara penuh
memperbaiki kesalahan anda.
tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh komunitas
mengetahui ceriteranya. Orang yang digossipin itu
sudah tentu sakit hati dan merasa terpukul.
Kemudian si wanita yang bertanggung jawab karena telah
menyebarluaskan gossip tersebut menemukan bahwa
gossip itu betul-betul salah. Dia menyesal dan datang
kepada orang tua yang bijak untuk mencari tahu apa yang
dapat dilakukannya untuk memperbaiki kesalahannya itu.
"Pergilah ke pasar," katanya, "dan beli seekor ayam,
bunuh. Kemudian dalam perjalanan pulang, cabuti bulunya
dan buang satu persatu di sepanjang jalan pulang."
Meski kaget mendengar saran itu, si wanita melakukan
apa yang disuruh kepadanya. Keesokan harinya si orang
bijak itu berkata, "Sekarang pergilah dan kumpulkan semua
bulu yang kau buang kemarin dan bawa kembali kepadaku."
Si wanita pun menyusuri jalan yang sama, namun angin
telah melemparkan semua bulu-bulu itu kemana-mana.
Setelah mencari-cari selama berjam-jam, ia kembali
hanya dengan tiga potong bulu. "Lihat kan?" kata si
orang bijak, "sangat mudah melemparkannya, namun
tidak mungkin menariknya kembali. Begitu pula dengan gossip.
Tidak sulit menyebarluaskan rumor, namun sekali
terlempar, anda tidak akan pernah secara penuh
memperbaiki kesalahan anda.
Labels:
Kisah
Kehilangan Sepatu
Kehilangan sama dengan Mendapatkan - "dalam banyak cara..."
(terjemahan dengan penulisan ulang dari LOSING IS WINNING - IN SO MANY WAYS)
Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan.
Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."
***
Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.
Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.
Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik. Ini semua dapat diartikan : supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.
Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.
Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.
Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik.
Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.
Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya.
Ambillah hikmah dari setiap kejadian
Zaman dahulu di negeri sakura, hidup seorang nenek dgn kuda putihnya yang bagus. Sangking bagusnya, Kaisar sampai menawarkan 1/32 dari harta kerajaanya untuk ditukar dengan kuda itu.
Suatu hari kuda putih itu hilang. Tetangga sekitar semua menghujat nenek tersebut, karena dianggap bodoh tidak mau menjualnya kepada Kaisar. "Lihat kamu sekarang mendapat sial. Kuda hilang !!" kata penduduk.
Nenek: Kalian terlalu cepat berkesimpulan. Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya
Sebulan kemudian, kuda putihnya pulang dengan membawa ratusan ekor temennya.
Penduduk: Rupanya kuda kamu yg hilang membawa berkah (karena dia membawa temen2 nya ke rumah kamu, dan kamu bisa menjual mereka)
Nenek: Kalian terlalu cepat berkesimpulan. Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya
Suatu hari, anak nenek tersebut pata kakinya terjatuh dari kuda, sewaktu melatih mereka untuk kemudian dijual ke pasar
Kembali penduduk setempat menghujat nenek tersebut. Kata mereka: kalau dulu kuda putihnya dijual tidak akan terjadi musibah ini
Nenek: Jangan terlalu cepat berkesimpulan, Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya
Sebulan kemudian datang utusan dari Kaisar, dgn membawa pesan "Negara dalam keadaan perang, semua pemuda di desa ini harus ikut berperang, kecuali orang tua, wanita, anak-anak, dan yang cacat.
Penduduk: Bener kata kamu, kaki anakmu patah rupanya berkah, tidak usah ikut perang. Sementara kami terpaksa berpisah dengan anak-anak kami
Nenek: Kalian ini entah kapan baru sadar. Jangan terlalu cepat berkesimpulan. Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya.
Yup.. bener. Seorang tokoh masyarakat dari negara Barat pernah berkata "Seseorang baru bisa dinilai baik atau jahat sesudah orang tersebut masuk peti mati"
Ambillah hikmah dari cerita diatas
(terjemahan dengan penulisan ulang dari LOSING IS WINNING - IN SO MANY WAYS)
Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan.
Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."
***
Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.
Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.
Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik. Ini semua dapat diartikan : supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.
Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.
Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.
Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik.
Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.
Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya.
Ambillah hikmah dari setiap kejadian
Zaman dahulu di negeri sakura, hidup seorang nenek dgn kuda putihnya yang bagus. Sangking bagusnya, Kaisar sampai menawarkan 1/32 dari harta kerajaanya untuk ditukar dengan kuda itu.
Suatu hari kuda putih itu hilang. Tetangga sekitar semua menghujat nenek tersebut, karena dianggap bodoh tidak mau menjualnya kepada Kaisar. "Lihat kamu sekarang mendapat sial. Kuda hilang !!" kata penduduk.
Nenek: Kalian terlalu cepat berkesimpulan. Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya
Sebulan kemudian, kuda putihnya pulang dengan membawa ratusan ekor temennya.
Penduduk: Rupanya kuda kamu yg hilang membawa berkah (karena dia membawa temen2 nya ke rumah kamu, dan kamu bisa menjual mereka)
Nenek: Kalian terlalu cepat berkesimpulan. Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya
Suatu hari, anak nenek tersebut pata kakinya terjatuh dari kuda, sewaktu melatih mereka untuk kemudian dijual ke pasar
Kembali penduduk setempat menghujat nenek tersebut. Kata mereka: kalau dulu kuda putihnya dijual tidak akan terjadi musibah ini
Nenek: Jangan terlalu cepat berkesimpulan, Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya
Sebulan kemudian datang utusan dari Kaisar, dgn membawa pesan "Negara dalam keadaan perang, semua pemuda di desa ini harus ikut berperang, kecuali orang tua, wanita, anak-anak, dan yang cacat.
Penduduk: Bener kata kamu, kaki anakmu patah rupanya berkah, tidak usah ikut perang. Sementara kami terpaksa berpisah dengan anak-anak kami
Nenek: Kalian ini entah kapan baru sadar. Jangan terlalu cepat berkesimpulan. Kita belum tau ini berkah atau sebaliknya.
Yup.. bener. Seorang tokoh masyarakat dari negara Barat pernah berkata "Seseorang baru bisa dinilai baik atau jahat sesudah orang tersebut masuk peti mati"
Ambillah hikmah dari cerita diatas
Labels:
Kisah
Bocah Pembeli Es Krim
Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.
"Mbak sundae cream harganya berapa?" si bocah bertanya.
"Lima ribu rupiah," yang ditanya menjawab.
Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya demngan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih "berduit" ngantre di belakang pembeli ingusan itu.
"Kalau plain cream berapa?"
Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, "Tiga ribu lima ratus".
Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, " Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak," kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.
Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.
Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat.
Sumber : Milis
"Mbak sundae cream harganya berapa?" si bocah bertanya.
"Lima ribu rupiah," yang ditanya menjawab.
Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya demngan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih "berduit" ngantre di belakang pembeli ingusan itu.
"Kalau plain cream berapa?"
Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, "Tiga ribu lima ratus".
Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, " Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak," kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.
Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.
Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat.
Sumber : Milis
Labels:
Kisah
Abah, kembalikan tangan Ita
“Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman dan pengajaran...
Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setenngah tahun. Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci
Bermainlah dia, berayun-ayun di atas buaian yang dibeli bapanya, ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer,coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… kerana mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas.Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu bapak dan ibunya pergi ke tempat kerja kerana macet ada perayaan Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam,kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejut pasangan itu melihat mobil baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini?” Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !” “kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yang kau lakukan?” hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya.Dengan penuh manja dia berkata “Ita yg membuat itu abahhh.. cantik kan!” katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa.
Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, lalu dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak tahu apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup keras memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya. Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram dan sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kesakitan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. “Oleskan obat saja!” jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Ita demam… ” jawap pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 tepat” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.. Doktor mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius.
Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu itu. “Tidak ada pilihan..” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sedah terlalu parah. “Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah” kata doktor. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu.Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar madandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Abah.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah.. sayang mama.” katanya berulangkali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Ita juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histers.
“Abah.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa abah ambiltangan ita.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi,” katanya berulang-ulang. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
*”jika tidak dapat apa yang kita suka…belajarlah utk menyukai apa yang kita dapat..
” *SoMeTiMeS GoOd PeOpLe Do EvIl ThiNgs.. ”
Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setenngah tahun. Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci
Bermainlah dia, berayun-ayun di atas buaian yang dibeli bapanya, ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer,coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… kerana mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas.Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu bapak dan ibunya pergi ke tempat kerja kerana macet ada perayaan Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam,kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejut pasangan itu melihat mobil baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini?” Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !” “kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yang kau lakukan?” hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya.Dengan penuh manja dia berkata “Ita yg membuat itu abahhh.. cantik kan!” katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa.
Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, lalu dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak tahu apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.
Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup keras memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya. Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram dan sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kesakitan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. “Oleskan obat saja!” jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Ita demam… ” jawap pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 tepat” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.. Doktor mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius.
Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu itu. “Tidak ada pilihan..” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sedah terlalu parah. “Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah” kata doktor. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu.Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar madandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Abah.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah.. sayang mama.” katanya berulangkali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Ita juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histers.
“Abah.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa abah ambiltangan ita.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi,” katanya berulang-ulang. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
*”jika tidak dapat apa yang kita suka…belajarlah utk menyukai apa yang kita dapat..
” *SoMeTiMeS GoOd PeOpLe Do EvIl ThiNgs.. ”
Labels:
Kisah
Subscribe to:
Posts (Atom)