QS. Maryam (19) : 1
Kaaf Haa Yaa Ain Shaad.
QS. Maryam (19) : 2
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria.
QS. Maryam (19) : 3
Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
QS. Maryam (19) : 4
Ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.
QS. Maryam (19) : 5
Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawali-ku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang anak laki-laki.".
QS. Maryam (19) : 6
"Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Yaqub, dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.".
QS. Maryam (19) : 7
Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
QS. Maryam (19) : 8
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua".
QS. Maryam (19) : 9
Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".
QS. Maryam (19) : 10
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".
**[Artinya; Pertama proses konsepnya hampir sama dg konsep yg sudah dijelaskan di atas. Akan tetapi kalau masalah ini perlu ekstra (faktor kesungguhan).
1. Berpuasalah (berpuasa sunnah biasa dan niat puasa sunnah aja) selama seminggu antara anda dan pasangan sebelum anda dan pasangan anda menuju kesehatan yg prima.
2. Sehatkanlah jasmani dan rohani anda selama kurang lebih 3 malam. Krn anda harus melakukan hubungan suami isteri selama itu dalam keadaan sehat.
3. Berdoalah dg kelemah lembutan di depan farji (vagina) dan ucapkanlah KAAF-HAA-YAA-A'in-SHAAD serta doa yg terbaik yg menurut pemahaman bahasa'mu. Hal ini dijalankan selama anda melakukan hubungan itu selama 3 malam dan bertasbihlah (mengingat Tuhan) di saat siang.
4. Lakukanlah proses2 setelahnya seperti penjelasan diatas (*)
[Ketetapan adalah sebuah Ketetapan. Jadi karena kita tidak tahu tg KetetapanNya maka pahamilah tentang apa2 yg sudah dijelaskan oleh Al Quran agar kita diberi petunjuk tg KEBENARAN]
Semoga Tulisan ini bermanfaat bagi yg menjalaninya..
II)
"Rabbi habli min ladunka dzuriyyatan thayibatan innaka sami udu'a"
dan
"rabbi la tadzarni fardhan wa anta khairul warisin"
bacanya setelah salat fardhu dan sebelum berhubungan, sambil diusep2 7x di perut :)
http://akuinginhamil.blogspot.com/2010/10/doa-dzikir-agar-dipermudah-mendapatkan.html
Showing posts with label religi. Show all posts
Showing posts with label religi. Show all posts
Thursday, October 21, 2010
Sunday, May 23, 2010
Mengapa aku harus ikhlas...?!
Mengapa aku harus ikhlas.... agar iblis jungkir balik, kalah telak tanpa balas
Mengapa aku harus ikhlas.... agar aku mendapatkan berkah dalam setiap butir beras
Mengapa aku harus ikhlas.... agar sinergiku kian selaras
Mengapa aku harus ikhlas.... agar magnet diriku tidak terlepas
Mengapa aku harus ikhlas.... agar manfaatku bisa berbekas
Mengapa aku harus menghormatinya.... sebab itu jalurku menuju syurga
Mengapa aku harus merawatnya... karena kasih sayangku dibutuhkannya
Mengapa aku harus mencintainya.... karena cinta membuat hatiku-hatinya berdaun berbunga
Mengapa aku harus hanya menyembah-Nya... sebab Dialah Tuhan, Zat Maha Kuasa
Mengapa aku tak boleh kecewa... boleh saja selama kecewaku berbuah taqwa
Mengapa aku tak boleh berduka... boleh saja selama dukaku memurnikan cinta
Mengapa aku tak boleh menguasai dunia....boleh saja jika aku sudah kuasai diri di jiwa
Mengapa aku tak boleh tebar pesona.... sebab segala pesona adalah milik Allah semata
Mengapa aku tak boleh mengeluh... karena keluhan membuatku rapuh
Mengapa aku tak boleh angkuh..... karena yang fana tak mungkin utuh
Mengapa aku tak boleh berlabuh.... sebab dunia saatnya melepas peluh
Mengapa aku tak boleh selingkuh.... mau dimana wajahku ditaruh
Mengapa ikhlasku tak boleh berkarat .... sebab Allah itu dekat
Mengapa aku tak boleh gila hormat... sebab orang gila harus dirawat
Mengapa aku tak boleh menjilat.... sebab mendzikirkan lidah jauh lebih nikmat
Mengapa aku tak boleh cinta berat... sebab dunia ini sebentar lagi kiamat
Mengapa aku tak boleh lari dari masalah.... karena aku tak mau lari dari kasih sayang-Nya
Mengapa aku tak boleh gundah dan gelisah.... agar jantungku tak lekas berdarah
Mengapa aku tak boleh memfitnah.... karena aku tak mau memakan daging mentah
Mengapa aku tak boleh jika ingin semuanya indah.... Karena indah hadir bersama masalah
Ya, mengapa aku harus ikhlas ....
Agar Allah meridhoiku dan semesta merasakan manfaatku
Sebab, tugasku menebar manfaat dan bukan menebar pesona
Seperti pohon... dilempar batu dibalas buah
Yang terbaik untukku dan semesta
Awet mudaku, pada jiwa yang tak lagi berbaju dunia
Wallahu'alam
resend : nuruliyani
Mengapa aku harus ikhlas.... agar aku mendapatkan berkah dalam setiap butir beras
Mengapa aku harus ikhlas.... agar sinergiku kian selaras
Mengapa aku harus ikhlas.... agar magnet diriku tidak terlepas
Mengapa aku harus ikhlas.... agar manfaatku bisa berbekas
Mengapa aku harus menghormatinya.... sebab itu jalurku menuju syurga
Mengapa aku harus merawatnya... karena kasih sayangku dibutuhkannya
Mengapa aku harus mencintainya.... karena cinta membuat hatiku-hatinya berdaun berbunga
Mengapa aku harus hanya menyembah-Nya... sebab Dialah Tuhan, Zat Maha Kuasa
Mengapa aku tak boleh kecewa... boleh saja selama kecewaku berbuah taqwa
Mengapa aku tak boleh berduka... boleh saja selama dukaku memurnikan cinta
Mengapa aku tak boleh menguasai dunia....boleh saja jika aku sudah kuasai diri di jiwa
Mengapa aku tak boleh tebar pesona.... sebab segala pesona adalah milik Allah semata
Mengapa aku tak boleh mengeluh... karena keluhan membuatku rapuh
Mengapa aku tak boleh angkuh..... karena yang fana tak mungkin utuh
Mengapa aku tak boleh berlabuh.... sebab dunia saatnya melepas peluh
Mengapa aku tak boleh selingkuh.... mau dimana wajahku ditaruh
Mengapa ikhlasku tak boleh berkarat .... sebab Allah itu dekat
Mengapa aku tak boleh gila hormat... sebab orang gila harus dirawat
Mengapa aku tak boleh menjilat.... sebab mendzikirkan lidah jauh lebih nikmat
Mengapa aku tak boleh cinta berat... sebab dunia ini sebentar lagi kiamat
Mengapa aku tak boleh lari dari masalah.... karena aku tak mau lari dari kasih sayang-Nya
Mengapa aku tak boleh gundah dan gelisah.... agar jantungku tak lekas berdarah
Mengapa aku tak boleh memfitnah.... karena aku tak mau memakan daging mentah
Mengapa aku tak boleh jika ingin semuanya indah.... Karena indah hadir bersama masalah
Ya, mengapa aku harus ikhlas ....
Agar Allah meridhoiku dan semesta merasakan manfaatku
Sebab, tugasku menebar manfaat dan bukan menebar pesona
Seperti pohon... dilempar batu dibalas buah
Yang terbaik untukku dan semesta
Awet mudaku, pada jiwa yang tak lagi berbaju dunia
Wallahu'alam
resend : nuruliyani
Labels:
religi
Wednesday, May 19, 2010
surga or neraka? semua terserah Allah.. kita cuma berusaha jadi hamba yg baik
Gus Jakfar
Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri
Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin"
dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian
masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya,
tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar
daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan
khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang
dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya
yang satu itu.
"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang
Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera
bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya."
"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang
sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja
mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang
tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama
yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus
Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar,
sudah ada yang ngelamar ya?'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang
melamarnya."
"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar
sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya
lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?'
Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal."
"Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil,
"Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar."
"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi
sudah kepingin ikut bicara. "Waktu itu, tak ada hujan tak ada angina, Gus
Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat
proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan
percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang
diselenggarakan Pemda tingkat propinsi."
"Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi
hanya asyik mendengarkan.
"Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus
Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."
***
Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger;
terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi
tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat
dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian
ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama
sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi
memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia
benar-benar kehilangan keistimewaannya.
"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar
Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang
terjadi pada beliau?"
"Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu;" kata Lik
Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan
mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian
berubah."
"Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak,
kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan
was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka,
jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga
sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui
beliau."
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat
Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong
sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan
merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin
karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut.
Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang
mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping
silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit
keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar
belakang perubahan sikap sampeyan."
"Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang
mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah."
"Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru
Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca,
bahkan diminta pun tak mau."
"O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak
segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di
depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat
kami tidak sabar, tapi kami diam saja.
"Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat
kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami
mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari
seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang
jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal.
Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai
yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada
beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing."
"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya
untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka
dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang
ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau.
Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku
tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana
kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk."
'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan
berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu
sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah,
kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di
gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang
nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang
nakmas sebut Kiai siapa tadi?'
'Kiai Tawakkal.'
'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.'
"Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan
sekelompok rumah gubuk dari bambu."
"Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan
Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang
rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya
sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan
Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua.
Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan
kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur
dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian
melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu.
Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali,
seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi
'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda
yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat.
Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan
disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin.
Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak
bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya
melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!"
"Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan
memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan
untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati
perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan.
Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai
yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti
dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab
besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun
beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat
jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada
malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun
merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda.
Semacam lelana brata, kata mereka."
"Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat
kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar.
Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya
yang selama ini mengganggu saya."
"Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan
berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau
pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya
membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu
jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan
langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut
semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati
mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang."
"Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian
saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang
terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa
ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan
penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang
satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani
pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai
mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi
warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.
'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di
telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir
tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya
melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk
dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang
saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua
wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh
orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!'
Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya.
Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari
pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan
tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan
tangan".
"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi,
ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya
mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita
warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya
rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya
menganggukkan kepala asal mengangguk."
"Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan
membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana
mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain
bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan
wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan
dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya
seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya
dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di
keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap
beliau berubah."
'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan
saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari
minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar.
Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah
melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi
kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."
"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah
sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai
Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan
biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih
berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa
berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar.
Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon
randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya
yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh
kita sudah sampai pondok.'
Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa,
Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari?
Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya?
Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat
tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai
rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang
menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian
terus berbicara.
'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda
"Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari
bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena,
pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan
kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku
adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku
ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka,
sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani
menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani
mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata
itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik
oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak
menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal
dari-Nya. Bukankah begitu?'
Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil
menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat
cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah
gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di
warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan
bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan
diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan:
godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila
kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak'
Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru
dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.
'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah
sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir;
nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini."
"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak
lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang
dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya
datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh
dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau
pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya
kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan
Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah
bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini
titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.'
'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru.
'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada
seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.'
Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil
mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."
Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk
mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan
suguhannya.
Rembang, Mei 2002
KH. Dr. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar
Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.
Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri
Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin"
dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian
masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya,
tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar
daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan
khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang
dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya
yang satu itu.
"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang
Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera
bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya."
"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang
sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja
mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang
tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama
yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus
Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar,
sudah ada yang ngelamar ya?'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang
melamarnya."
"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar
sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya
lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?'
Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal."
"Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil,
"Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar."
"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi
sudah kepingin ikut bicara. "Waktu itu, tak ada hujan tak ada angina, Gus
Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat
proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan
percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang
diselenggarakan Pemda tingkat propinsi."
"Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi
hanya asyik mendengarkan.
"Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus
Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."
***
Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger;
terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi
tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat
dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian
ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama
sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi
memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia
benar-benar kehilangan keistimewaannya.
"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar
Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang
terjadi pada beliau?"
"Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu;" kata Lik
Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan
mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian
berubah."
"Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak,
kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan
was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka,
jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga
sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui
beliau."
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat
Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong
sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan
merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin
karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut.
Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang
mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping
silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit
keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar
belakang perubahan sikap sampeyan."
"Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang
mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah."
"Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru
Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca,
bahkan diminta pun tak mau."
"O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak
segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di
depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat
kami tidak sabar, tapi kami diam saja.
"Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat
kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami
mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari
seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang
jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal.
Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai
yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada
beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing."
"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya
untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka
dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang
ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau.
Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku
tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana
kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk."
'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan
berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu
sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah,
kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di
gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang
nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang
nakmas sebut Kiai siapa tadi?'
'Kiai Tawakkal.'
'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.'
"Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan
sekelompok rumah gubuk dari bambu."
"Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan
Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang
rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya
sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan
Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua.
Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan
kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur
dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian
melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu.
Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali,
seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi
'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda
yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat.
Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan
disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin.
Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak
bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya
melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!"
"Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan
memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan
untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati
perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan.
Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai
yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti
dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab
besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun
beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat
jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada
malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun
merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda.
Semacam lelana brata, kata mereka."
"Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat
kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar.
Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya
yang selama ini mengganggu saya."
"Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan
berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau
pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya
membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu
jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan
langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut
semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati
mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang."
"Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian
saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang
terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa
ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan
penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang
satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani
pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai
mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi
warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.
'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di
telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir
tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya
melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk
dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang
saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua
wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh
orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!'
Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya.
Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari
pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan
tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan
tangan".
"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi,
ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya
mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita
warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya
rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya
menganggukkan kepala asal mengangguk."
"Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan
membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana
mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain
bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan
wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan
dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya
seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya
dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di
keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap
beliau berubah."
'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan
saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari
minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar.
Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah
melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi
kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."
"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah
sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai
Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan
biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih
berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa
berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar.
Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon
randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya
yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh
kita sudah sampai pondok.'
Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa,
Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari?
Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya?
Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat
tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai
rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang
menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian
terus berbicara.
'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda
"Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari
bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena,
pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan
kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku
adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku
ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka,
sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani
menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani
mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata
itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik
oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak
menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal
dari-Nya. Bukankah begitu?'
Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil
menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat
cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah
gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di
warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan
bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan
diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan:
godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila
kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak'
Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru
dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.
'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah
sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir;
nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini."
"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak
lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang
dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya
datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh
dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau
pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya
kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan
Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah
bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini
titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.'
'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru.
'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada
seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.'
Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil
mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."
Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk
mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan
suguhannya.
Rembang, Mei 2002
KH. Dr. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar
Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.
Labels:
religi
Sunday, April 25, 2010
kisah Khalifah umar dan Atiqah si gadis jujur
Khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu memiliki kegemaran melakukan ronda malam sendirian untuk melihat langsung kondisi rakyatnya. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya secara langsung dari dekat.
Ketika melewati sebuah gubuk, khalifah merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik. Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Khalifah Umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.
“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu. “Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
“Benar anakku,” kata ibunya.
“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.
“Hmm…, sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya. Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu. “Nak,” bisik ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah iu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya. “Tidak, Bu!” katanya cepat. “Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
“Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”
“Tapi tidak akan ada yang tahu kita mencampur dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa. “Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”
“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apapun kita menyembunyikannya,” tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang. Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.
“Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin, Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,” kata anak itu. Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres. Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
“Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam Khalifah Umar. Dia beranjak meninggalkan gubuk itu kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.
***
Keesokan paginya, Khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Diceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.
“Anakku menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah Umar. “Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang MahaMelihat.” Ashim bin Umar menyetujuinya.
Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.
“Tuan saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami…,” sahut ibu tua ketakutan.
Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya. “Bagaimana mungkin? Tuan adalah seorang putra khalifah, tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya ibu dengan perasaan ragu.
“Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketakwaanlah yang meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.
“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khlaifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka. “Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas Khalifah Umar.
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana dengan menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya. Sesudah Ashim menikah dnegan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia dan membahagiakan kedua orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yakni Umar bin Abdul Aziz.
Ketika melewati sebuah gubuk, khalifah merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik. Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Khalifah Umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.
“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu. “Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
“Benar anakku,” kata ibunya.
“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.
“Hmm…, sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya. Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu. “Nak,” bisik ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah iu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya. “Tidak, Bu!” katanya cepat. “Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
“Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”
“Tapi tidak akan ada yang tahu kita mencampur dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa. “Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”
“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apapun kita menyembunyikannya,” tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang. Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.
“Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin, Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,” kata anak itu. Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres. Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
“Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam Khalifah Umar. Dia beranjak meninggalkan gubuk itu kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.
***
Keesokan paginya, Khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Diceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.
“Anakku menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah Umar. “Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang MahaMelihat.” Ashim bin Umar menyetujuinya.
Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.
“Tuan saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami…,” sahut ibu tua ketakutan.
Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya. “Bagaimana mungkin? Tuan adalah seorang putra khalifah, tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya ibu dengan perasaan ragu.
“Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketakwaanlah yang meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.
“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khlaifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka. “Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas Khalifah Umar.
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana dengan menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya. Sesudah Ashim menikah dnegan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia dan membahagiakan kedua orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yakni Umar bin Abdul Aziz.
Labels:
religi
Sunday, August 2, 2009
wasiat penolak kefakiran
Adalah Abdullah bin Mas’ud , salah seorang sahabat dekat Rasul SAW. Di masa Khalifah Usman bin Affan, dia menderita sakit dan terbaring di atas tempat tidurnya, Khalifah usman menjenguknya dan menyaksikan Abdullah bin Mas’ud dalam keadaan sedih.
Usman : “Apa yang membuatmu sedih?”
Abdullah : “Dosa dosaku”
Usman : “Apa yang engkau inginkan dariku, aku akan penuhi?”
Abdullah : “Saya merindukan rahmat Allah”
Usman : “Jika engkau setuju, aku akan memanggilkan tabib”
Abdullah : “Tabib hanya membuatku sakit”
Usman : “Jika engkau tak keberatan, aku akan perintahkan bendaharaku untuk memberimu harta dari baitul mal”
Abdullah : “Ketika aku amat membutuhkannya, engkau tak memberiku sesuatu, dan sekarang tatkala aku sama sekali tak membutuhkannya, engkau hendak memberikan sesuatu!”
Usman : “Pemberian itu juga hadiah untuk putri putrimu”
Abdullah : “Mereka juga tak membutuhkan sesuatu, karena aku telah berwasiat kepada mereka untuk membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kefakiran”
Nah, saudara muslimku, informasi ini sudah sampai kepada anda semua, jangan di sia-siakan , mari kita lakukan amalan ini, Insha Allah, kita mampu untuk tetap tegar dalam menghadapi ujian kehidupan ini dan niscaya Insha Allah, kefakiran pun tak akan hadir di hadapan kita semua. Dan berilah wasiat yang sama kepada orang orang yang anda cintai, agar mereka bisa seberuntung seperti yang di sabdakan Rasul SAW di atas. Amin.
Usman : “Apa yang membuatmu sedih?”
Abdullah : “Dosa dosaku”
Usman : “Apa yang engkau inginkan dariku, aku akan penuhi?”
Abdullah : “Saya merindukan rahmat Allah”
Usman : “Jika engkau setuju, aku akan memanggilkan tabib”
Abdullah : “Tabib hanya membuatku sakit”
Usman : “Jika engkau tak keberatan, aku akan perintahkan bendaharaku untuk memberimu harta dari baitul mal”
Abdullah : “Ketika aku amat membutuhkannya, engkau tak memberiku sesuatu, dan sekarang tatkala aku sama sekali tak membutuhkannya, engkau hendak memberikan sesuatu!”
Usman : “Pemberian itu juga hadiah untuk putri putrimu”
Abdullah : “Mereka juga tak membutuhkan sesuatu, karena aku telah berwasiat kepada mereka untuk membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kefakiran”
Nah, saudara muslimku, informasi ini sudah sampai kepada anda semua, jangan di sia-siakan , mari kita lakukan amalan ini, Insha Allah, kita mampu untuk tetap tegar dalam menghadapi ujian kehidupan ini dan niscaya Insha Allah, kefakiran pun tak akan hadir di hadapan kita semua. Dan berilah wasiat yang sama kepada orang orang yang anda cintai, agar mereka bisa seberuntung seperti yang di sabdakan Rasul SAW di atas. Amin.
Labels:
religi
Tuesday, May 5, 2009
Amalan untuk dapat bertemu Rasulullah dalam mimpi
Artikel dibawah ini merupakan rangkuman dari forum diskusi Majelis Rasulullah http://www.majelisrasulullah.org, seputar amalan yang dapat menghantarkan kita dapat bertemu dengan Rasulullah melalui mimpi. Saya meringkasnya untuk mempermudah pemahaman dan pembacaan saja.
Bermula dari pertanyaan singkat ‘Bagaimana caranya saya dapat bertemu dengan Rasulullah ?’. Berikut ini jawaban Habib Munzir.
1.Mengenai berjumpa dg Rasul saw adalah dg merindukan beliau saw dan memperbanyak amalan sunnah semampunya, dan memperbanyak shalawat, beliau saw mencintai kita dan memperhatikan kita lebih dari ayah bunda kita, beliau saw adalah ayah ruh bagi semua ummatnya, maka ruh kita tetap mudah berhubungan dengan ruh beliau saw, lewat mimpi misalnya, nah.. perkuat hubungan ruh anda dengan ruh beliau saw dengan shalawat ini :”Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa ‘ala Jasadihi filjasad, wa alaa Qabrihi filqubuur” (wahai Allah limpahkan shalawat pada Ruh Sayyidina Muhammad di alam arwah, dan limpahkan pula pada Jasadnya di alam Jasad, dan pada kuburnya di alam kubur). Sumber artikel
2.Anda bisa saja jumpa dg Rasul saw dalam mimpi, perbanyaklah shalawat, cintailah sunnah, dan perbanyaklah
bersedekah pada anak yatim, dan baktilah pada ibunda jika masih ada, ini adalah amalan amalan yg sangat dicintai oleh
Rasul saw,
anda jangan tidur kecuali bibir anda terus bershalawat pada nabi saw, beliau saw akan menjumpa anda, dan yakinlah.. Sumber artikel
3.Saya (Habib Munzir) menyukai semua shalawat, dulu saya membaca 17 macam shalawat, diantaranya shalawat Syeikh Abdulqadir Aljailani yg panjangnya 13 halaman, namun kini saya membaca satu macam shalawat saja, yg diajarkan Rasul saw lewat mimpi pd saya, pendek saja yaitu : “ALLAHUMMA SHALLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALIHI WA SHAHBIHI WASALLIM”
shalawat ini saya baca 5.000X setiap harinya, jika anda ingin membacanya silahkan, saya ijazahkan pada anda, boleh membacanya 100X, 200X atau lebih atau berapa saja sekemampuan anda dan luasnya waktu, dan bisa dibaca sambil dimobil, dijalan, atau dimanapun,
4.Masalah mimpi Rasul saw, saya (Habib Munzir) pernah bermimpi beliau saw dan mengadukan banyaknya orang yg rindu dg beliau saw namun belum jumpa dalam mimpi, beliau saw menutup wajahnya dan menangis, seraya berkata : “Tiada yg memisahkanku dg mereka selain tabir qudrat, dan mereka akan jumpa dg ku kelak”
beliau saw sangat perduli dan rindu pada ummatnya, lebih lebih yg mencintai beliau saw, dan telah teriwayatkan pada shahih Muslim bahwa beliau saw bersabda : “Ummatku yg paling cinta padaku adalah yg hidup setelah aku wafat, dan mereka sangat mengidamkan jumpa dg ku daripada harta dan keluarganya”.
/blog.its.ac.id/syafii/2009/05/03/amalan-untuk-dapat-bertemu-rasulullah-dalam-mimpi/
Bermula dari pertanyaan singkat ‘Bagaimana caranya saya dapat bertemu dengan Rasulullah ?’. Berikut ini jawaban Habib Munzir.
1.Mengenai berjumpa dg Rasul saw adalah dg merindukan beliau saw dan memperbanyak amalan sunnah semampunya, dan memperbanyak shalawat, beliau saw mencintai kita dan memperhatikan kita lebih dari ayah bunda kita, beliau saw adalah ayah ruh bagi semua ummatnya, maka ruh kita tetap mudah berhubungan dengan ruh beliau saw, lewat mimpi misalnya, nah.. perkuat hubungan ruh anda dengan ruh beliau saw dengan shalawat ini :”Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa ‘ala Jasadihi filjasad, wa alaa Qabrihi filqubuur” (wahai Allah limpahkan shalawat pada Ruh Sayyidina Muhammad di alam arwah, dan limpahkan pula pada Jasadnya di alam Jasad, dan pada kuburnya di alam kubur). Sumber artikel
2.Anda bisa saja jumpa dg Rasul saw dalam mimpi, perbanyaklah shalawat, cintailah sunnah, dan perbanyaklah
bersedekah pada anak yatim, dan baktilah pada ibunda jika masih ada, ini adalah amalan amalan yg sangat dicintai oleh
Rasul saw,
anda jangan tidur kecuali bibir anda terus bershalawat pada nabi saw, beliau saw akan menjumpa anda, dan yakinlah.. Sumber artikel
3.Saya (Habib Munzir) menyukai semua shalawat, dulu saya membaca 17 macam shalawat, diantaranya shalawat Syeikh Abdulqadir Aljailani yg panjangnya 13 halaman, namun kini saya membaca satu macam shalawat saja, yg diajarkan Rasul saw lewat mimpi pd saya, pendek saja yaitu : “ALLAHUMMA SHALLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALIHI WA SHAHBIHI WASALLIM”
shalawat ini saya baca 5.000X setiap harinya, jika anda ingin membacanya silahkan, saya ijazahkan pada anda, boleh membacanya 100X, 200X atau lebih atau berapa saja sekemampuan anda dan luasnya waktu, dan bisa dibaca sambil dimobil, dijalan, atau dimanapun,
4.Masalah mimpi Rasul saw, saya (Habib Munzir) pernah bermimpi beliau saw dan mengadukan banyaknya orang yg rindu dg beliau saw namun belum jumpa dalam mimpi, beliau saw menutup wajahnya dan menangis, seraya berkata : “Tiada yg memisahkanku dg mereka selain tabir qudrat, dan mereka akan jumpa dg ku kelak”
beliau saw sangat perduli dan rindu pada ummatnya, lebih lebih yg mencintai beliau saw, dan telah teriwayatkan pada shahih Muslim bahwa beliau saw bersabda : “Ummatku yg paling cinta padaku adalah yg hidup setelah aku wafat, dan mereka sangat mengidamkan jumpa dg ku daripada harta dan keluarganya”.
/blog.its.ac.id/syafii/2009/05/03/amalan-untuk-dapat-bertemu-rasulullah-dalam-mimpi/
Labels:
religi
Amalan untuk dapat bertemu Rasulullah dalam mimpi
Artikel dibawah ini merupakan rangkuman dari forum diskusi Majelis Rasulullah http://www.majelisrasulullah.org, seputar amalan yang dapat menghantarkan kita dapat bertemu dengan Rasulullah melalui mimpi. Saya meringkasnya untuk mempermudah pemahaman dan pembacaan saja.
Bermula dari pertanyaan singkat ‘Bagaimana caranya saya dapat bertemu dengan Rasulullah ?’. Berikut ini jawaban Habib Munzir.
1.Mengenai berjumpa dg Rasul saw adalah dg merindukan beliau saw dan memperbanyak amalan sunnah semampunya, dan memperbanyak shalawat, beliau saw mencintai kita dan memperhatikan kita lebih dari ayah bunda kita, beliau saw adalah ayah ruh bagi semua ummatnya, maka ruh kita tetap mudah berhubungan dengan ruh beliau saw, lewat mimpi misalnya, nah.. perkuat hubungan ruh anda dengan ruh beliau saw dengan shalawat ini :”Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa ‘ala Jasadihi filjasad, wa alaa Qabrihi filqubuur” (wahai Allah limpahkan shalawat pada Ruh Sayyidina Muhammad di alam arwah, dan limpahkan pula pada Jasadnya di alam Jasad, dan pada kuburnya di alam kubur). Sumber artikel
2.Anda bisa saja jumpa dg Rasul saw dalam mimpi, perbanyaklah shalawat, cintailah sunnah, dan perbanyaklah
bersedekah pada anak yatim, dan baktilah pada ibunda jika masih ada, ini adalah amalan amalan yg sangat dicintai oleh
Rasul saw,
anda jangan tidur kecuali bibir anda terus bershalawat pada nabi saw, beliau saw akan menjumpa anda, dan yakinlah.. Sumber artikel
3.Saya (Habib Munzir) menyukai semua shalawat, dulu saya membaca 17 macam shalawat, diantaranya shalawat Syeikh Abdulqadir Aljailani yg panjangnya 13 halaman, namun kini saya membaca satu macam shalawat saja, yg diajarkan Rasul saw lewat mimpi pd saya, pendek saja yaitu : “ALLAHUMMA SHALLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALIHI WA SHAHBIHI WASALLIM”
shalawat ini saya baca 5.000X setiap harinya, jika anda ingin membacanya silahkan, saya ijazahkan pada anda, boleh membacanya 100X, 200X atau lebih atau berapa saja sekemampuan anda dan luasnya waktu, dan bisa dibaca sambil dimobil, dijalan, atau dimanapun,
4.Masalah mimpi Rasul saw, saya (Habib Munzir) pernah bermimpi beliau saw dan mengadukan banyaknya orang yg rindu dg beliau saw namun belum jumpa dalam mimpi, beliau saw menutup wajahnya dan menangis, seraya berkata : “Tiada yg memisahkanku dg mereka selain tabir qudrat, dan mereka akan jumpa dg ku kelak”
beliau saw sangat perduli dan rindu pada ummatnya, lebih lebih yg mencintai beliau saw, dan telah teriwayatkan pada shahih Muslim bahwa beliau saw bersabda : “Ummatku yg paling cinta padaku adalah yg hidup setelah aku wafat, dan mereka sangat mengidamkan jumpa dg ku daripada harta dan keluarganya”.
Bermula dari pertanyaan singkat ‘Bagaimana caranya saya dapat bertemu dengan Rasulullah ?’. Berikut ini jawaban Habib Munzir.
1.Mengenai berjumpa dg Rasul saw adalah dg merindukan beliau saw dan memperbanyak amalan sunnah semampunya, dan memperbanyak shalawat, beliau saw mencintai kita dan memperhatikan kita lebih dari ayah bunda kita, beliau saw adalah ayah ruh bagi semua ummatnya, maka ruh kita tetap mudah berhubungan dengan ruh beliau saw, lewat mimpi misalnya, nah.. perkuat hubungan ruh anda dengan ruh beliau saw dengan shalawat ini :”Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa ‘ala Jasadihi filjasad, wa alaa Qabrihi filqubuur” (wahai Allah limpahkan shalawat pada Ruh Sayyidina Muhammad di alam arwah, dan limpahkan pula pada Jasadnya di alam Jasad, dan pada kuburnya di alam kubur). Sumber artikel
2.Anda bisa saja jumpa dg Rasul saw dalam mimpi, perbanyaklah shalawat, cintailah sunnah, dan perbanyaklah
bersedekah pada anak yatim, dan baktilah pada ibunda jika masih ada, ini adalah amalan amalan yg sangat dicintai oleh
Rasul saw,
anda jangan tidur kecuali bibir anda terus bershalawat pada nabi saw, beliau saw akan menjumpa anda, dan yakinlah.. Sumber artikel
3.Saya (Habib Munzir) menyukai semua shalawat, dulu saya membaca 17 macam shalawat, diantaranya shalawat Syeikh Abdulqadir Aljailani yg panjangnya 13 halaman, namun kini saya membaca satu macam shalawat saja, yg diajarkan Rasul saw lewat mimpi pd saya, pendek saja yaitu : “ALLAHUMMA SHALLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALIHI WA SHAHBIHI WASALLIM”
shalawat ini saya baca 5.000X setiap harinya, jika anda ingin membacanya silahkan, saya ijazahkan pada anda, boleh membacanya 100X, 200X atau lebih atau berapa saja sekemampuan anda dan luasnya waktu, dan bisa dibaca sambil dimobil, dijalan, atau dimanapun,
4.Masalah mimpi Rasul saw, saya (Habib Munzir) pernah bermimpi beliau saw dan mengadukan banyaknya orang yg rindu dg beliau saw namun belum jumpa dalam mimpi, beliau saw menutup wajahnya dan menangis, seraya berkata : “Tiada yg memisahkanku dg mereka selain tabir qudrat, dan mereka akan jumpa dg ku kelak”
beliau saw sangat perduli dan rindu pada ummatnya, lebih lebih yg mencintai beliau saw, dan telah teriwayatkan pada shahih Muslim bahwa beliau saw bersabda : “Ummatku yg paling cinta padaku adalah yg hidup setelah aku wafat, dan mereka sangat mengidamkan jumpa dg ku daripada harta dan keluarganya”.
Labels:
religi
Kelebihan Zikir Kepada Allah
Allah Yang Maha Besar selalu mengingatkan kita di dalam kitab-Nya Al-Quran Al-Karim supaya berzikirillah seperti berikut:
“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang, dan pada sebahagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bahagian yang panjang di malam hari.” Surah 76: Al Insan, Ayat 25 & 26
“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak meninggikan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” Surah 7: Al A’raf, Ayat 205
“Orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Surah 3: Al Imran Ayat 191
“Sesungguhnya Aku lah Allah, tidak ada Tuhan selainKu, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” Surah 20 Ta Ha Ayat 14
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” Surah 33: Al Ahzab Ayat 21
Dari Bukhari, Muslim, Tirmidhi dan Ibn Majah, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu di majlis, nescaya Aku juga akan mengingatinya di dalam suatu majlis yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya seperti berlari-lari anak.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah s.w.t Yang Maha Memberkati lagi Maha Tinggi memiliki para Malaikat yang mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Allah s.w.t. Para Malaikat selalu mengelilingi bumi. Para Malaikat sentiasa memerhati majlis-majlis zikir. Apabila mereka dapati ada satu majlis yang dipenuhi dengan zikir, mereka turut mengikuti majlis tersebut di mana mereka akan melingkunginya dengan sayap-sayap mereka sehinggalah memenuhi ruangan antara orang yang menghadiri majlis zikir tersebut dan langit. Apabila orang ramai yang hadir dalam majlis tersebut beredar, para malikat naik ke langit.
Allah s.w.t bertanya para malaikat meskipun Allah mengetahui pergerakan mereka:
“Dari mana kamu datang?”
Malaikat menjawab:
“Kami datang dari tempat hamba-hambaMu di dunia. Mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid serta berdoa memohon dari-Mu.”
Allah s.w.t berfirman:
“Apakah yang mereka pohonkan.?”
Para Malaikat menjawab:
“Mereka memohon Syurga dari-Mu.”
Allah berfirman:
“Apakah mereka pernah melihat Syurga-Ku?”
Para Malaikat menjawab:
“Belum, wahai Tuhan.”
Allah berfirman:
“Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Syurga-Ku?”
Malaikat berkata lagi:
“Mereka juga memohon daripada-Mu perlindungan.”
Allah berfirman:
“Mereka pohon perlindungan-Ku dari apa?”
Malaikat menjawab:
“Dari Neraka-Mu, wahai tuhan.”
Allah berfirman:
“Apakah mereka pernah melihat Neraka-Ku?”
Malaikat menjawab:
“Belum.”
Allah berfirman:
“Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Neraka-Ku.”
Malaikat terus berkata:
“Mereka juga memohon keampunan-Mu.”
Allah berfirman:
“Aku sudah mengampuni mereka. Aku telah kurniakan kepada mereka apa yang mereka pohon dan Aku telah berikan ganjaran pahala kepada mereka sebagaimana yang mereka pohonkan.”
Malaikat berkata lagi:
“Wahai tuhan kami, di antara mereka terdapat seorang hamba-Mu. Dia penuh dengan dosa, sebenarnya dia tidak berniat untuk menghadiri majlis tersebut, tetapi setelah dia melaluinya dia terasa ingin menyertainya lalu duduk bersama-sama orang ramai yang berada di majlis itu.”
Allah berfirman:
“Aku juga telah mengampuninya. Mereka adalah kaum yang tidak dicelakakan dengan majlis yang mereka adakan.”
alhawi.net
“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang, dan pada sebahagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bahagian yang panjang di malam hari.” Surah 76: Al Insan, Ayat 25 & 26
“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak meninggikan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” Surah 7: Al A’raf, Ayat 205
“Orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Surah 3: Al Imran Ayat 191
“Sesungguhnya Aku lah Allah, tidak ada Tuhan selainKu, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” Surah 20 Ta Ha Ayat 14
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” Surah 33: Al Ahzab Ayat 21
Dari Bukhari, Muslim, Tirmidhi dan Ibn Majah, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu di majlis, nescaya Aku juga akan mengingatinya di dalam suatu majlis yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya seperti berlari-lari anak.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah s.w.t Yang Maha Memberkati lagi Maha Tinggi memiliki para Malaikat yang mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Allah s.w.t. Para Malaikat selalu mengelilingi bumi. Para Malaikat sentiasa memerhati majlis-majlis zikir. Apabila mereka dapati ada satu majlis yang dipenuhi dengan zikir, mereka turut mengikuti majlis tersebut di mana mereka akan melingkunginya dengan sayap-sayap mereka sehinggalah memenuhi ruangan antara orang yang menghadiri majlis zikir tersebut dan langit. Apabila orang ramai yang hadir dalam majlis tersebut beredar, para malikat naik ke langit.
Allah s.w.t bertanya para malaikat meskipun Allah mengetahui pergerakan mereka:
“Dari mana kamu datang?”
Malaikat menjawab:
“Kami datang dari tempat hamba-hambaMu di dunia. Mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid serta berdoa memohon dari-Mu.”
Allah s.w.t berfirman:
“Apakah yang mereka pohonkan.?”
Para Malaikat menjawab:
“Mereka memohon Syurga dari-Mu.”
Allah berfirman:
“Apakah mereka pernah melihat Syurga-Ku?”
Para Malaikat menjawab:
“Belum, wahai Tuhan.”
Allah berfirman:
“Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Syurga-Ku?”
Malaikat berkata lagi:
“Mereka juga memohon daripada-Mu perlindungan.”
Allah berfirman:
“Mereka pohon perlindungan-Ku dari apa?”
Malaikat menjawab:
“Dari Neraka-Mu, wahai tuhan.”
Allah berfirman:
“Apakah mereka pernah melihat Neraka-Ku?”
Malaikat menjawab:
“Belum.”
Allah berfirman:
“Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Neraka-Ku.”
Malaikat terus berkata:
“Mereka juga memohon keampunan-Mu.”
Allah berfirman:
“Aku sudah mengampuni mereka. Aku telah kurniakan kepada mereka apa yang mereka pohon dan Aku telah berikan ganjaran pahala kepada mereka sebagaimana yang mereka pohonkan.”
Malaikat berkata lagi:
“Wahai tuhan kami, di antara mereka terdapat seorang hamba-Mu. Dia penuh dengan dosa, sebenarnya dia tidak berniat untuk menghadiri majlis tersebut, tetapi setelah dia melaluinya dia terasa ingin menyertainya lalu duduk bersama-sama orang ramai yang berada di majlis itu.”
Allah berfirman:
“Aku juga telah mengampuninya. Mereka adalah kaum yang tidak dicelakakan dengan majlis yang mereka adakan.”
alhawi.net
Labels:
religi
Subscribe to:
Posts (Atom)